Pages

Kamis, 04 Oktober 2012

PEMUDA KAMMI : BUSUR PANAH INDONESIA



Selamat datang pemuda Indonesia. Selamat datang di kampus, tempat berserak pemikiran dan idealisme. Tetapkan hatimu sejak sekarang dan mari bergerak bersama KAMMI!!!
A
lhamdulillah, luar biasa! Itulah kata pertama yang ingin penulis ucapkan kepada para pemuda yang membaca tulisan ini. Sosok pemuda adalah manusia yang terus bergerak bagaikan busur panah tajam. Mereka (pemuda-ed) adalah manusia penuh idealisme, simpatik, visioner dan memiliki kepercayaan diri kuat untuk tidak kenal letih memperbaiki kualitas diri dan bangsanya. Di mata pemuda seperti ini, hidup adalah sebuah sketsa perjuangan, tempat merangkai kepingan cerita sehingga menjadi asset bagi kemajuan bangsa dan umatnya. Seperti ditegaskan salah seorang pembaharu Islam, Imam Syahid Hasan Al Banna :
Sejak dulu sampai sekarang pemuda adalah pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda adalah rahasia kekuataannya. Dalam setiap fikroh, pemuda adalah pengibar panji-panjinya. “
            Untuk dapat mencapai kesuksesan, sejatinya seorang pemuda  dituntut mampu mengenali dirinya agar tidak salah mengambil keputusan strategis demi masa depannya kelak. Dengan berdialog imajiner kepada dirinya, manusia muda dapat melukiskan konsepsi hidupnya. Keberhasilan merumuskan jati diri merupakan modal strategis dalam pergaulan sosial. Dalam pengaruh jangka panjang, kemampuan melakoni drama kegiatan sosial kemasyarakatan adalah kunci mewujudkan mimpi Muslim Negarawan (sesuai tagline KAMMI). Muslim negarawan adalah sosok yang mau berkontribusi kepada entitas kebangsaan dan mampu memajukan masa depan Islam sebagai proses keumatan.
Wahai pemuda Indonesia!!! Perlu saya ingatkan kepada kalian. Sekarang kalian sudah beranjak semakin dewasa, bukan generasi manja yang bertumpu kepada bantuan orang tua. Kalian sudah berkembang sebagai manusia yang dibebankan tugas sejarah memperbaiki kondisi Islam dan Indonesia. Apalagi, sekarang kalian sudah dipertontonkan bagaimana badai berkepanjangan menerjang Indonesia sehingga menggurita kekerasan sosial, krisis ekonomi, rendahnya kerukunan beragama dan serbuan  bencana tidak ada habisnya. Sungguh, bangsa yang sekarat ini sedang membutuhkan uluran tangan dan gagasan cerdas sehingga keresahan rakyat dapat terselesaikan.
Semua itu dapat terjawab ketika rasa kepemudaan (baca: kemahasiswaan) dapat dinternalisasikan dalam kehidupan pemuda Indonesia. Proses itu akan dijalankan selama empat tahun masa aktif kuliah di universitas yang kalian banggakan. Sehingga, wajar jika penulis mengatakan masa di kampus adalah sebuah proses belajar mengenai kepemimpinan, integritas, karakter positif, kebanggaan kepada bangsa (nasionalisme) dan peningkatan aspek spiritualitas (membangkitkan nilai keagamaan) sebagai bekal perjalanan panjang berkontribusi untuk kemajuan Islam dan Indonesia. Sebab Indonesia mendatang membutuhkan perbaikan dimana salah satu penopang strategisnya adalah kekuatan pemuda yang diyakini mampu menggerakan hati, pikiran dan langkah gerak masyarakat Indonesia.
Untuk itu, sebagai pemuda pilihan yang bergelar “mahasiswa” sudah selayaknya proses kontributif, produktif dan solutif dapat dijalankan sejak dini. Kontributif dimaknai bagaimana memberikan kemampuan terbaik, mengerahkan segala potensi yang dimiliki untuk cita-cita kebangsaan dan keumatan sehingga menghasilkan perbaikan yang maksimal. Produktif dimanifestasikan terus bekerja, berdialektika, menciptakan karya sebagai tanggung jawab intelektualitas masyarakat ilmiah. Solutif yakni berani mengkritisi pemikiran/kebijakan yang menyimpang, mampu menganalisis secara ilmiah sehingga dihasilkan suatu karya/pemikiran baru yang mampu menyelesaikan persoalan di masyarakat luas. Dalam mencapai usaha tersebut, seorang pemuda selayaknya memiliki tiga “busur panah” yang harus dilatih sejak anda mulai membaca tulisan ini.
            Busur panah pertama adalah banyak membaca. Seberapa berkualitas manusia itu diukur dari apa yang dibaca. Semakin berkualitas bacaan seorang anak muda, dirinya dapat dikatakan layak memiliki kapasitas yang mampu menguatkan kompetensi diri dan bangsanya. Soekarno, Hatta dan Natsir merupakan deretan tokoh bangsa yang menguasai dunia dengan membaca. Sejak kecil mereka membiasakan dirinya bergaul dengan buku, mengolah pikiran dengan menganalisisnya dan merumuskan menjadi gagasan dan tindakan untuk mengubah bangsanya.
            Budaya membaca itu memang selayaknya menjadi perhatian serius. berdasarkan survei UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia terendah di ASEAN. Dari 39 negara di dunia, Indonesia menempati posisi ke-38. Tidak kalah memprihatinkan, data UNDP menunjukkan posisi minat baca Indonesia berada di peringkat 96, sejajar dengan Bahrain, Malta, dan Suriname. Sementara untuk kawasan Asia Tenggara, hanya ada dua negara dengan peringkat di bawah Indonesia, yakni Kamboja dan Laos yang masing-masing berada di urutan angka seratus.
Membaca juga merupakan asset strategis, sebab mengutip Buya Hamka, “Dengan seni hidup menjadi indah, dengan ilmu hidup menjadi mudah dan dengan agama hidup terarah” Ilmu membantu manusia menjadi mudah menjalankan aktivitas. Kepadatan ilmu diartikan dengan memperbanyak bahan bacaan. Maka bergabung bersama KAMMI merupakan ajang investasi ilmu. Sebab di KAMMI ada proses nalar intelektual dengan membaca yaitu adanya Manhaj Tugas Baca (Mantuba). Mantuba merupakan proses pengkaderan dimana kader baru KAMMI akan mendapatkan kesempatan wisata buku rerefensi pilihan baik kompetensi keilmuan, nilai keagamaan dan kepemudaan.
            Busur panah kedua adalah aktif menulis sebagai proses olah pikir terhadap fenomena yang berkembang di sekitarnya.  Sebuah pemikiran dan tindakan dapat menjadi ledakan besar ketika dituliskan. Seorang pemimpin Prancis, Napoleon Bonaparte pernah mengatakan “Saya lebih takut kepada tulisan dibandingkan menghadapi ribuan pasukan perang. Sebab tulisan menghasilkan pengaruh yang luas dan bisa membuat kekuasaan saya hanya bertahan selama tiga hari” Ini jelas sebuah ungkapan kejujuran bagaimana tulisan dapat menjadi senjata tajam dalam mempengaruhi opini publik.
            Dalam konteks itu teman-teman harus membiasakan menulis. Sebab banyak pekerjaan sebagai mahasiswa akan bersinggungan dengan menulis seperti membuat esai, makalah, karya ilmiah dan paper. KAMMI sebagai organisasi mahasiswa yang peduli kepada literasi siap memfasilitasi kerja teman-teman untuk membiasakan menulis. Pekerjaan menulis dapat dimulai dengan tradisi pembuatan esai sebagai prasayarat penting setiap jenjang pengkaderan KAMMI. Sebab menulis itu bagi KAMMI adalah bagaikan mata pena yang tajam, yang siap menuliskan jejak – jejak kebenaran.
            Saat ini, Alhamdulillah sudah tidak dapat terhitung artikel kader KAMMI menghiasi media massa lokal dan nasional. Selain itu, karya ilmiah berbentuk skripsi, tesis dan disertasi juga banyak menghiasi dunia ilmiah, disebabkan ketertarikan peneliti terhadap organisasi yang menurut Taufik Ismail “KAMMI adalah anugerah terbaik Allah SWT untuk Indonesia” KAMMI juga sukses menelurkan karya dalam bentuk buku seperti KAMMI dan Pergulatan Reformasi (Mahfudz Siddiq), Gerakan Perlawanan dari Masjid Kampus (Andi Rahmat), Humas Gerakan (Edo Segara), Menyiapkan Momentum (Rijalul Imam) dan lainnya.
            Busur panah ketiga yakni berdiskusi. Tradisi berfikir pemuda adalah kritisme, idealisme, visioner dan berpijak kepada kebenaran. Dalam memandang sebuah persoalan (baik konteks kampus, isu lokal/kedaerahan, persoalan keumatan dan persoalan nasional/kebangsaan), mahasiswa sebagai elemen muda terbiasakan mengkritik sebuah kebijakan melalui mekanisme ilmiah. Untuk itu, diskusi dibutuhkan untuk menjaring pendapat, saling beradu argumentasi, mengolah teori menjadi tindakan dan belajar menghargai perbedaan pendapat. Diskusi juga menjadi ajang saling merumuskan langkah aksi sehingga mampu bergerak secara produktif dan sesuai nalar logis.
Potensi diskusi menjadi perhatian penting organisasi KAMMI sejak pertama kali berdiri pada 29 Maret 1998. KAMMI sebelum melakukan keputusan memprotes sebuah kebijakan baik kampus, daerah dan nasional mengajak anggotanya berdiskusi, sehingga akar persoalan dan tindakan yang diambil mampu menghasilkan arus perubahan yang positif. Selain itu, ketika akan merumuskan sebuah sistem pengkaderan, kehumasan dan kerja strategis lainnya, anggota KAMMI terbiasakan melalui kajian komprehensif, mengacu kepada fakta kontemporer dan berbasiskan data ilmiah sehingga kebijakan yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.
Akhirnya,  Ketua Umum Pengurus Pusat KAMMI 2006-2008, Taufik Amrullah dalam bukunya KAMMI Menuju Muslim Negarawan: Meretas Kebangkitan Indonesia (2008) mengatakan kita dapat membaca dalam banyak literatur, bagaimana peran sentral pemuda dari berbagai negeri dalam perjuangan membangun bangsa, baik perjuangan fisik maupun secara diplomasi, organisasi, sosial politik dan intelektual. Masa muda adalah masa penuh gejolak yang menjadi ladang tumbuh suburnya heroisme pemuda. Pemuda yang hidup dalam suasana pergolakan akan cenderung memiliki kreativitas yang tinggi untuk melakukan perubahan atas berbagai kerumitan yang dihadapi. Tetapi pemuda yang hidup dalam nuansa nyaman dan tenang cenderung mempertahankan situasi yang ada tanpa usaha keras melakukan perubahan yang lebih baik dan produktif.
Semangat Bergerak!

Inggar Saputra
Kepala Departemen Humas Pengurus Pusat KAMMI 2011-2013
Note: Dipersembahkan untuk mahasiswa baru Universitas Sriwijaya 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar