Pages

Jumat, 02 Mei 2014

Mahkota Cinta


Sebuah Novel Pembangun Jiwa oleh Habiburrahman El Shirazy

BAB 3 

Pukul tujuh pagi, Zul baru bangun tidur. la kaget karena bangun terlalu siang. Sinar matahari telah menerobos jendela dan masuk ke dalam kamarnya. la langsung bangkit dan mengambil air wudhu dengan tergesa-gesa. la belum shalat Subuh. Ketika hendak shalat ia bingung arah kiblat. Terpaksa ia keluar kamar untuk menanyakan arah kiblat. Di ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang santai, Sumiyati dan Iin sedang asyik nonton televisi. "Waduh arah kiblat mana ya? Waduh kok saya tidak dibangunkan. Jadi terlambat shalat Subuh!" Kata Zul setengah menggerutu. Tidak jelas kepada siapa kata-kata itu ia tujukan. Pada Sumiyati atau pada Iin, atau pada kedua-duanya. "Maaf Dik, kami
segan mau membangunkan. Kiblat ke arah jendela Dik." Jawab Iin kalem sambil memandang ke arah Zul yang masih jelas bekasnya dari tidur. Zul kembali ke kamar dan shalat. Setelah itu ia kembali ke ruangan tamu. Ia tidak melihat Mari. "Lha Mbak Mar ke mana? Apa masih tidur juga?" "Ya tidak. Mbak Mar itu orang paling disiplin di rumah ini. Ia sudah bangun sejak jam empat tadi. Biasanya shalat Tahajjud. Terus nyuci pakaian.



Tadi setelah shalat Subuh ia langsung berangkat kerja." Jelas Sumiyati santai sambil mengambil kacang tanah yang ada di depannya. Lalu mengeluarkan isinya dan memasukkan ke dalam mulutnya. "O ya sebelum berangkat tadi Mar nitip pesan. Kalau kamu sudah bisa menghubungi orang yang kamu tuju dan mau pergi pagi ini atau siang ini tidak apa-apa. Kalau masih betah dan mau menginap barang satu dua hari lagi ya tidak apa-apa. Hanya saja Mar minta kalau siang ini orang itu tidak juga bisa kauhubungi kau sebaiknya menginap semalam lagi. Siang ini dia akan mencoba mencarikan informasi tentang tempat yang lebih pas, sekaligus informasi tentang pekerjaan jika ada/' Iin menyahut. "Sebaiknya, siang ini Mas istirahat saja dulu di sini. Kan baru datang. Sambil menunggu informasi dari Mbak Mar jika nanti ia kembali," sambung Sumiyati memberi saran.

"Saya mau keluar sebentar Mbak. Sekalian lihat-lihat lingkungan. Saya mau coba telpon orang yang harus saya hubungi itu sekali lagi," kata Zul. "Ya, hati-hati Dik. Jangan lupa bawa paspor ya," tukas Iin Zul keluar mencari telpon. Lima puluh meter dari rumah itu ia menemukan warung kelontong, namun di situ tertulis kedai runcit. Di warung itu ada wartelnya. Dari wartel itu ia mencoba menelpon nomor yang ia catat dari Pak Hasan. Berulang-ulang ia menelpon, tapi tidak juga berhasil. Ia mencoba menelpon Pak Hasan yang ada di Batam juga tidak berhasil. Nomor Pak Hasan sedang tidak aktif. Ia kembali ke rumah dan mendapati dua perempuan itu telah rapi dan siap pergi. "Dik kami harus berangkat kerja. Ini kunci rumah, siapa tahu kamu mau keluar. Jika nanti kamu mau pergi meninggalkan rumah, tolong rumah dikunci. Dan kuncinya letakkan saja di bawah pot bunga itu. Oh ya sarapannya sudah kami siapkan di dapur. Makan saja yang banyak. Maaf seadanya." Dengan lembut Iin menjelaskan."O ya Mas, kalau mau lihat film-film Malaysia. Nyalakan saja DVD player itu. DVD-nya ada di rak biru itu," sahut Sumiyati. "Kami pergi dulu ya. Yah demi mencari sesuap nasi Mas." Imbuhnya sambil membuka pintu. Mereka berdua lalu bergegas meninggalkan rumah. Ketika mereka sampai di halaman hendak membuka pintu gerbang, sebuah mobil sedan Proton Wira berhenti tepat di hadapan mereka. Seorang perempuan berpakaian sangat ketat keluar dari mobil itu. la melambaikan tangan pada pengendara mobil yang bermata sipit. "Baru pulang Lin?" sapa Iin. "Iya Mbak. Tadi ketiduran di hotel," jawab perempuan itu santai. Zul melihat dari pintu yang masih terbuka. "Kamu itu mbok ya ingat akhirat meskipun sedikit-sedikitlah Lin? Ingatlah hari akhir kelak Lin!" Iin menasihati dengan suara lembut. "Aduh Mbak, kalau mau ceramah di masjid saja. Saya sedang capek nih. Sory ya Mbak. Saya harus istirahat. Lha itu kok ada cowok di rumah kita. Siapa dial?" ketus Linda. "Itu adik saya dari Demak," jawab Iin.
 "Orangnya baik kok Lin. Namanya Zul. Jangan takut santai saja," timpal Sumiyati. "Siapa yang takut. Saya tak pernah takut sama lelaki. Apalagi lelaki Indonesia kurus kaya gitu. Lelaki dari Amerika, Rusia bahkan Nigeria sekalipun saya tidak pernah takut! Kenapa kalian masih mematung saja di sini. Nanti kalian terlambat didamprat sama majikan baru tahu rasa!" sengit Linda. "Ya udah kami berangkat dulu. Jaga rumah baikbaik ya Lin." "Ya," jawab Linda singkat sambil beranjak masuk rumah. Ketika masuk rumah dan melewati Zul yang berdiri di samping pintu Linda menyapa datar, "Halo Mas, baru datang dari Indonesia ya?" "Iya," jawab Zul singkat. Linda langsung masuk ke dalam kamarnya. Sementara Zul masih berdiri di samping pintu memandang lurus ke depan, ke halaman dan jalan. la mendengar dengan jelas percakapan tiga perempuan itu. Dan ia bisa meraba, kira-kira apa pekerjaan perempuan muda bernama Linda yang baru saja menyapanya itu. Dan siang itu ia bisa jadi hanya akan berdua bersama Linda di rumah yang sepi itu. Ia berpikir apa yang akan ia kerjakan seharian di rumah itu. Apakah ia akan hanya tidur di kamar? Bagaimana kalau Linda mengajak berbincang-bincang? Apakah ia akan bersikap cuek saja terhadap Linda? Ataukah ia akan berpura-pura bersikap baik kepadanya. Sebab ia paling tidak suka dengan perempuan yang memiliki tanda-tanda sebagai perempuan tidak benar. Dari cara Linda berpakaian dan dari pembicaraan yang baru saja ia dengar, ia memiliki firasat kuat bahwa Linda adalah jenis perempuan tidak benar. Zul mengambil nafas panjang. Ia belum bisa memutuskan akan bersikap bagaimana. "Mas pintunya ditutup saja.
Di sini tidak lazim membuka pintu lama-lama." Seru Linda dari kamarnya yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat Zul berdiri. Secara reflek Zul menengok ke arah suara. Pintu kamar Linda terbuka lebar dan Linda merebahkan tubuhnya begitu saja di tempat tidurnya, dengan sepatu hak tingginya masih terpasang di kedua kakinya. Zul merasakan getaran dalam dadanya. Ia langsung menutup pintu dan bergegas masuk ke dalam kamarnya. Sementara Iin dan Sumi masih berjalan ke arah hentian bus. Dalam hati Iin memanjatkan doa agar Linda kembali ke jalan yang benar. Ada yang meleleh dari kedua matanya yang berkaca-kaca. la sangat sayang pada gadis cantik—yang sudah tidak gadis lagi—itu. ia ingat bagaimana awal perjumpaannya dengan Linda di pagi yang cerah di KBRI Kuala Lumpur. Linda yang berwajah Indo itu memperkenalkan diri sebagai karyawati sebuah kantor maskapai penerbangan di Kuala Lumpur. Pagi itu Linda ada sedikit urusan di bagian konsuler. la tidak menanyakan detil urusan Linda sebenarnya. la sendiri punya urusan yang membuatnya pusing, gajinya selama lima bulan tidak dibayar oleh majikan. la hendak melaporkan hal itu ke pihak KBRI. Dari yang tak lebih dari dua puluh menit itu ia tahu Linda memiliki cita-cita yang tinggi.
 Linda bercerita tentang keinginannya melanjutkan kuliah sampai S.3 di negeri tempat ia dilahirkan, yaitu Belanda. "Saya harus cari uang dulu. Ibu saya tidak mungkin membiayai saya kuliah. Ayah saya, saya tidak mengenalnya sejak kecil. Ibu hanya cerita ia orang Belanda dan sudah menikah lagi di sana. Sudah jadi orang penting di Belanda. Ibu saya tidak meridhai jika saya minta uang sepeser pun pada ayah saya. Kata ibu saya, saya boleh ke Belanda, tapi tidak boleh mengemis pada ayah saya, atau keluarga ayah saya. Ibu saya sangat dendam pada ayah saya, dan dendamnya itu telah diwariskan pada saya. Saya tidak akan menceritakan perihal dendam itu. Pokoknya dendam yang sangat menyakitkan. Intinya ayah saya pernah memperlakukan ibu saya dengan sangat tidak manusiawi di Belanda. Dan itu saat mengandung saya. "Ya alhamdulillah, berkat peluh dan keringat ibu saya, akhirnya saya bisa selesai kuliah di Jakarta dan langsung mendapat pekerjaan. Sekarang saya bisa kerja di Kuala Lumpur ini dengan gaji yang lumayan. Saya akan menabung. Kalau bisa saya akan lanjut kuliah S.2 di sini baru nanti S.3 di Belanda. Jika saya sudah sukses, kaya dan bermartabat, saya akan ajak ibu saya menemui ayah saya dengan kepala tegak. Bahkan saya bercitacita harus kaya hingga saya nanti bisa punya perusahaan besar di Belanda. Harus lebih kaya dari Mr. Van Braskamp. "Van Braskamp itulah nama ayah saya. Dia seorang  Belanda. Tapi saya sama sekali tidak kenal budaya Belanda. Saya sejak umur dua tahun sudah di Sunda.

Hidup bersama kakek dan nenek saya. Ayah saya tidak meninggalkan apa-apa kepada saya kecuali warna kulitnya yang membuat saya lebih putih dari ibu saya. Itu saja. Tapi saya akan membuktikan pada ayah saya itu, suatu saat saya bisa lebih terhormat dari ayah saya di negeri ayah saya. Itulah cita-cita saya Mbak Iin. Kalau Mbak Iin punya cita-cita apa? Untuk apa kerja di Malaysia ini?" Iin masih ingat saat itu ia hanya menggelengkan kepala lalu menjawab, "Saya tidak punya cita-cita yang tinggi seperti Dik Linda. Saya hanya ingin dapat uang. Bisa membiayai suami saya yang sedang sakit dan bisa membiayai dua anak saya yang masih kecil-kecil yang sekarang diasuh oleh adik saya. Itu saja. Juga punya tabungan untuk buka warung di kampung. Itu saja Dik Linda." Saat itu Linda tersenyum dan mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, "Semoga cita-cita Mbak Iin dikabulkan oleh  Allah.Amin." Dalam hati ia ikut mengamini. Di pertemuan yang singkat itu, ia sempat bertukar nomor hand phone dengan Linda. Linda yang memberi nomornya dulu. "Mbak ini nomor hape saya. Siapa tahu Mbak atau teman Mbak ada yang ingin pulang liburan. Bisa pesan tiket ke saya." Sejak itulah ia sering berkomunikasi dengan Linda. Beberapa kali ia bertemu dengan Linda tanpa sengaja di Menara Kembar Petronas KLCC. Seringkali Linda mentraktirnya makan. Selesai makan biasanya mengajak shalat di surau yang ada di sana. Ia melihat Linda begitu agamis. Dan dalam balutan jilbab muka Indo itu bagai bidadari surga yang turun ke bumi. Ia sangat takjub pada keelokan dan kebaikan Linda. Dari rasa takjub itulah rasa sayangnya pada Linda terbit. Sejak kenal dengan Linda, ia sering membayangkan alangkah enaknya bisa kerja seperti Linda. Duduk tenang di kantor yang ber-AC dengan bayaran yang tinggi. Kerjanya cuma mengangkat telpon. Lihat layar
komputer. Dan nulis nota. Tidak seperti dirinya yang harus kerja di Warung Runcit6 dengan majikan yang kasar dan pelit. Itulah yang ia pikirkan pada waktu itu.
Dan ia merasa alangkah beruntungnya Linda. Cantik, pintar, masih sangat muda, dan berpenghasilan tinggi. Tapi ia segera menyadari siapakah dirinya dan siapakah Linda. Dirinya tak lebih hanya lulusan MTs dengan penampilan sangat biasa, sementara Linda sudah sarjana dan cantik pula. Pekerjaan kantor sepertinya tidak boleh dikerjakan oleh orang desa dengan wajah pas-pasan yang hanya lulusan MTs seperti dirinya. Tapi jika melihat kehidupan Linda saat ini, ia yang hanya orang desa dan cuma lulusan MTs seperti dirinya merasa lebih bahagia daripada Linda. Buat apa pandai, sarjana dan cantik jika hanya menjadi budak nafsu dan setan. Dan hidup dalam lembah kehinaan. Baginya, sebagai wanita, kehormatan diri dan kesucian diri adalah harta paling berharga setelah iman kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Entah sudah berapa kali ia berusaha mengingatkan Linda, baik dengan cara yang paling halus maupun cara yang sangat terangterangan. Baik dengan sindiran maupun ancaman siksa neraka jahanam. Tapi ia melihat Linda sama sekali tidak ada perubahan. Bahkan shalat pun sudah ia tinggalkan. Ia sudah jarang melihat wajah blesteran Sunda Belanda  itu berbalut mukena putih. Ia merasa bidadari surga yang turun ke bumi itu telah hilang. Jika menghayati apa yang terjadi pada Linda, hatinya sering miris dan merinding. Betapa berbedanya Linda yang dulu dengan sekarang. Alangkah mudahnya ketakwaan itu sirna dan iman itu hilang lenyap di akhfr zaman seperti sekarang. Tidak sedikit orang yang dulu dikenal karena ketakwaannya tiba-tiba dalam waktu tak lama dikenal karena kedurhakaannya. "Na'udzubillahi min dzalik.
 Ya Rabbi, jauhkanlah hamba dari itu semua. Jangan Kaubiarkan iman ini lepas dari hati hamba sedetik pun." Doanya dalam hati sambil mengusap airmatanya. "Kenapa menangis Mbak Iin?" tanya Sumiyati. "Tidak apa-apa. Aku hanya kasihan sama Linda. Jauh-jauh merantau ke sini, siang malam hanya untuk menjual kehormatan dan bermaksiat. Kalau tidak mau bertaubat sungguh kasihan. Rugi di dunia, rugi di akhirat." "Iya Mbak. Aku masih ingat awal-awal Linda hidup bersama kita, ia masih shalat dan masih mau membaca Yasin. Tapi sekarang sepertinya dia tidak memiliki Tuhan." "Hus. Jangan bilang begitu Sum!" bentak Iin, "Semoga saja semaksiat-maksiatnya Linda, dia masih mengakui Allah sebagai Tuhannya," lanjutnya. "Semoga saja Mbak. Hidup di perantauan seperti kita ini memang tidak mudah. Keimanan kita benar-benar dipertaruhkan. Mbak tolong doakan saya ya. Itu, si Karan kawan kerja saya di restoran sering menggoda saya. Saya takut tergoda Mbak." "Kau harus kuat Sum. Imanmu harus terus kaupupuk. Kita harus sating menguatkan dan mengingatkan. Kita harus sating mengingatkan bahwa perzinahan itu termasuk dosa besar. Dan sekali orang berzina, orang itu akan sulit lepas dari belenggu dosa itu. Sangat memungkinkan ia akan melakukan yang kedua, ketiga dan seterusnya. Dan itulah yang dikehendaki setan. Jangan kita biarkan diri kita terperangkap oleh kesempatan melakukan dosa besar itu. Sebisa mungkin kesempatan itu jangan dibiarkan ada. Aku sendiri Sum, aku mengakui diriku tidak cantik. Tetapi aku juga mengalami apa yang kaualami. Banyak yang menggoda. Tapi aku berusaha untuk kuat dan berusaha menjaga agar jangan sampai setan menciptakan kesempatan melakukan perbuatan dosa besar itu. Sebab, jika kesempatan itu tercipta, aku kuatir imanku tidak kuat untuk mencegahnya. Di antara caraku menjaga diri adalah dengan tidak pernah meladeni segala bentuk keisengan mereka yang menggodaku. Termasuk SMS yang hanya iseng. Aku selalu berangkat tepat waktu dan begitu saatnya pulang aku langsung pulang. Tidak berlama-lama ngobrol di tempat kerja." "Gitu Mbak ya?" "Iya." "Wah, untung Mbak kasih tahu. Si Karan itu inginnya ngajak ngobrol terus selesai kerja. Ia bahkan sering ngajak nonton film."
 "Kalau ingin selamat, jangan kautanggapi sedikit pun." "Iya Mbak." "Linda pernah cerita, ia menjadi seperti sekarang ini bermula dari menanggapi SMS iseng teman kerjanya, seorang pria muda asal Singapura." "Cerita detilnya bagaimana Mbak?" "Aku juga tidak tahu Sum. Linda hanya pernah menyinggung bahwa semuanya bermula dari SMS iseng seorang teman kerja asal Singapura. Seorang pria muda yang menawan. Itu saja." "Eh Mbak itu busnya datang. Ayo cepat!" teriak Sumiyati. "Wah iya Sum, itu bus kita! Sahut Iin dengan mata berbinar. Mereka berdua langsung mempercepat langkah. Bus Rapid KL semakin mendekat, merapat di halte, lalu menurunkan dan menaikkan penumpang. Kedua perempuan itu mengejar dengan setengah berlari, takut ketinggalan.
 * * *
Zul tidur di kamarnya, yang tak lain adalah kamar Mari. Kedua matanya memandang langit-langit kamar yang berwarna putih bersih. Sementara pikirannya melayang ke mana-mana. Melayang ke perjalanan dari Batam hingga ketemu Mari. Dan sampai di rumah yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia masih juga berpikir apa yang harus ia lakukan siang itu.  Apakah tetap diam di rumah itu menunggu Mari pulang. Sehingga ia bisa mendapat informasi dari Mari. Ataukah ia nekat saja pergi dari rumah itu. Kenapa ia mesti menunggu informasi dari Mari. Bukankah ia bisa nekat, sebagaimana selama ini ia selalu nekat. Dan bukankah sebenarnya ia pergi ke Malaysia juga berbekal nekat. Kalau ia nekat pergi dari rumah itu, siang itu juga, lalu ia mau pergi ke mana? Ia tidak hafal Kuala Lumpur dan sekitarnya. Apa asal pergi saja. Yang penting jalan. Seperti waktu ia dulu nekat ke Jakarta. Tapi ia nyaris mati di Jakarta karena dikeroyok berandalan jalanan. Apa ia akan mengulangi nasib yang sama. Dan jika ia nekat, berapa lama ia akan bisa bertahan? Uang yang ia bawa sangat pas-pasan. Tak lebih dari seratus lima puluh ringgit. Berapa lama ia bisa bertahan dengan seratus lima puluh ringgit? Ia lalu berpikir realistis, apa salahnya menunggu Mari pulang. Ia bisa dapat informasi yang lebih jelas. Mungkin informasi ada pekerjaan yang membuatnya bisa bertahan bahkan bisa memperbaiki nasib. Apa salahnya menunggu sampai sore hari. Ia bisa tidur seharian di kamar itu dengan pintu terkunci. Toh di kamar itu ada kamar mandi dan WC-nya. Ia tidak perlu keluar. Juga, tidak baik rasanya meninggalkan rumah itu tanpa terlebih dulu pamitan pada Mari, yang begitu baik padanya. Ia akhirnya mantap untuk tetap di rumah itu siang itu, sampai Mari pulang. Jika Mari pulang dan ia telah mendapatkan informasi dan petunjuk yang mungkin sangat penting baginya, maka ia bisa pergi.

Zul mencoba berkonsentrasi memejamkan kedua matanya, ia ingin tidur lagi. Namun konsentrasinya buyar begitu telinga mendengar suara orang mandi. Ia langsung yakin yang mandi itu adalah Linda. Sejurus kemudian ia mendengar televisi dinyalakan. Ia lalu mendengar lagu-lagu India dibunyikan dengan sedikit keras. Ia benar-benar tidak bisa memejamkan kedua matanya.

Ia lalu bangkit dari kasur. Ia yakin tidak bisa tidur. Ia lalu melihat-melihat isi kamar itu, ia mencari sesuatu yang bisa dibacanya. Di samping meja rias ia melihat setumpuk majalah dan koran. Juga ada beberapa buku.

Ia lihat buku-buku itu. Buku-buku ekonomi berbahasa Inggris. Ia ambil satu. Judulnya International Monetary and Financial Economics. Ia buka buku itu. Di halaman paling depan ia menemukan nama pemilik buku itu tertulis dengan tinta biru. Liew Su Ying. Nama China. Di bawah buku itu ada buku bersampul biru tua. Ia ambil. Terbitan Oxford University Press. Judulnya Game Theory with Applications to Economics. Ia menggelenggelengkan kepala. Orang yang bisa memahami buku seperti itu pastilah bahasa Inggrisnya mantap. Ia buka halaman depan. Nama pemilik buku dan tanda tangannya tertulis di situ. Laila Binti Abdul Majid, TTDI, Kuala Lumpur. Ia yakin itu nama perempuan Melayu.

Ia jadi bertanya-tanya, kenapa buku ekonomi seperti itu bisa ada di dalam kamar Mari dan Iin? Siapakah yang selama ini membaca buku itu? Mari kah? Atau Iin kah? Apakah mungkin mereka berdua bisa memahami buku berbahasa Inggris? Tiba-tiba ia tersenyum, mengapa ia bisa sebodoh itu. Bisa jadi orang China yang namanya tertulis sebagai pemilik buku itu adalah orang yang memiliki rumah ini. Bukankah ini rumah sewa? Dan bukankah Mari mengatakan pemiliknya adalah orang China? Ia menduga pemiliknya adalah orang China yang menikah dengan perempuan Melayu.

Sangat mungkin, pemilik rumah itu tidak mengemasi bukunya dan membiarkan buku-bukunya tergeletak begitu saja di kamar itu. Lalu Mari dan Iin menatanya jadi satu dengan majalah dan koran di samping meja , rias. Atau entahlah, yang jelas ia menafikan jika yang punya dan yang membaca buku-buku ekonomi berbahasa Inggris itu adalah Mari atau Iin. Melihat tampang dan penampilan mereka sangat meragukan, dan sangat tidak meyakinkan.

la lalu melihat-lihat beberapa majalah. Ada yang terbitan Indonesia, Malaysia, Singapura dan bahkan Hongkong. la mengambil yang terbitan Indonesia. Ia bawa ke kasur. la baca sambil tiduran. Tak berapa lama kemudian ia merasa mengantuk. Entah kenapa setiap kali ia membaca rasa kantuk itu menyerang dengan cepat. Saat ia berada di antara sadar dan tidak sadar karena mulai masuk ridur, sayup-sayup ia mendengar pintu kamarnya diketuk beberapa kali. Ia tidak jadi memejamkan mata.

"Mas! Mas! Halloo! Buka dong!"

Itu jelas suara Linda.

"Iya. Sebentar!" sahutnya sambil bangkit menuju pintu.

Begitu pintu ia buka, tampaklah wajah Linda yang sangat berbeda dengan wajah yang tadi ia lihat saat Linda baru datang. Wajah Linda yang ada di hadapannya tampak segar, dan menawan. Linda menyungging senyum yang membuat dadanya berdesir. Ia sepertinya belum pernah melihat pesona sesegar wajah Indo yang ada di hadapannya.

"Hallo Mas, maaf mengganggu. Tadi kita belum kenalan. Kenalkan namaku Linda. Lengkapnya Linda Van Braskamp. Aku kerja di sebuah hotel berbintang di Kuala Lumpur." Sapa Linda sambil mengacungkan tangan kanannya mengajak berjabat tangan. Zul langsung menjabat tangan itu sambil memperkenalkan dirinya,

"E... nama saya Ahmad Zul. Saya berasal dari Demak. Mbak Linda orang Belanda ya?"

"Ya. Ada darah Belanda. Tepatnya blesteran Sunda - Belanda. Tapi aku tetap merasa sebagai orang Indonesia. O ya kapan Mas Zul sampai?"

"Tadi malam."

"Berarti bareng Mbak Mar?"

"Ya."

"Tadi Mbak Iin cerita, Mas adiknya Mbak Iin, benar?"

Zul tersenyum mendengarnya, ia lalu menjawab,

"Dikatakan adiknya Mbak Iinjuga boleh."

"Lho kok gitu. Kok ada juga bolehnya. Jadi

sebenarnya bukan adiknya Mbak Iin?"

"Ah itu tidak penting. Tadi baru pulang kerja ya?"

"Iya saat ini aku kena sif malam. Jadi manusia kelelawar. Malam jadwalnya kerja, siang jadwalnya istirahat."

"Jadi siang ini mau di rumah saja?"

"Lha iya lah. Kan harus istirahat. Tapi aku lapar sekali. Mau keluar cari makanan rasanya malas sekali. Aku tengok di dapur ada nasi goreng. Itu pasti disedikan untuk Mas Zul. Boleh saya minta sedikit Mas. Atau kita makan bareng. Bagaimana? Mas Zul belum sarapan kan?"

"Belum."

"Ayo kalau begitu kita makan bersama. Kita makan di ruang tamu saja. Sambil ngobrol. Oh ya Mas Zul mau minum apa? Aku bikinkan."

"Teh panas boleh."

"Baik. Mas Zul tunggu di ruang tamu saja ya, sambil nonton televisi."

"Baik."

Linda ke dapur membuat minuman dan mengambil makanan. Zul melangkah ke ruang tamu lalu duduk di sofa sambil membaca majalah yang tadi ia baca. Tak lama kemudian Linda muncul dengan membawa nampan berisi dua piring nasi goreng dan dua gelas teh manis. Zul mendongakkan muka dan melihat ke arah Linda yang datang. Barulah ia memperhatikan pakaian yang dipakai Linda, yang tadi tidak ia perhatikan. Linda memakai gaun yang hanya pantas dipakai di kamar tidurnya saja. Zul seperti terpaku dan terbelenggu di tempat duduknya. Tubuhnya terasa kaku.

Linda meletakkan nampan di meja dan langsung duduk di samping Zul. Bau wangi parfum Linda tercium jelas oleh hidung Zul. Zul tidak bisa konsentrasi makan, ia masih menata pikirannya yang ia rasakan mulai kacau.

"Kok bengong saja Mas. Ayo dimakan. Tadi nasinya sudah saya hangatkan. Kalau dingin tidak enak."

"E... iya Mbak."

Zul mengambil piring berisi nasi goreng dan mulai menyantapnya pelan-pelan. Ia masih terus berjuang menata kembali pikirannya yang mulai berpikir yang

"Rencana siang ini Mas Zul mau ke mana? Kalau tidak ada rencana, di rumah saja menemani aku. Aku bawa film Hollywood terbaru. Kita nonton berdua saja di rumah. Kalau nonton film sendirian rasanya tidak seru."

"Saya belum ada rencana. Tidak tahulah. Saya sebenarnya ingin jalan-jalan."

"Sebenarnya aku ingin sekali nemani jalan-jalan. Tapi kurasa, aku harus istirahat dan nyantai di rumah. Kalau Mas mau jalan-jalan sendiri tidak apa-apa. Kebetulan aku ada kunci dobel. Sebentar ya."

Linda menghentikan makannya dan beranjak ke kamarnya. Lalu keluar dengan membawa kunci.

"Ini bawa saja. Yang ini kunci gembok pintu besi dan yang ini kunci pintu. Kalau Mas keluar dan saat pulang aku sedang tidur tidak perlu membangunkan aku. Bawa saja kunci ini selama Mas di sini."

"Terima kasih."

"O ya ngomong-ngomong Mas mau kerja di mana? Sudah ada agen yang mengatur?"

"Belum tahu. Masih mencari."

"O jadi belum dapat kerja. Begini Mas, ini kalau Mas mau. Bagaimana kalau kerja di hotel tempat aku kerja. Tapi
kerjanya malam sih. Kalau mau, bisa aku coba hubungkan ke pihak personalia. Aku kenal baik dengan penanggung jawabnya. Gajinya lumayan kok. Bagaimana?"

"Nanti saya pikirkan."

"Sejak jumpa pertama kali tadi, kulihat Mas memang banyak berpikir dan merenung. Jangan terlalu dibuat serius hidup ini Mas, cepat tua nanti. Itu Mbak Mar, coba nanti kalau ketemu kauamati dia baik-baik, karena ia juga terlalu serius memikirkan hidup jadi kelihatan jauh lebih tua dari umurnya. Padahal ia hanya selisih satu tahun saja dariku."

"Benarkah?"

"Serius. Mbak Mar itu terlalu banyak mikir.

Semuanya dia pikir. Mau makan saja dia mikir, ini halal tidak, haram tidak. Kalau aku sih selama enak kenapa tidak? Sekarang aku menemukan agama baru. "

"Agama baru?"

"Ya. Aku kasih nama agama enak. Pokoknya segala yang enak-enak itu jadi ajarannya. Itulah agamaku sekarang. Tuhannya adalah Tuhan yang maha membebaskan manusia untuk berenak-enak."

"Astaghfirullah. Meskipun yang kelihatannya enak itu dilarang agama."

"Agama yang mana? Kalau agamaku tadi ya jelas tidak melarang. Kalau agama Islam seperti agamamu, aku yakin kau Islam, ya aku tidak tahu."

"Wah itu namanya agama hawa nafsu."

"Terserah, aku tidak peduli. Yang jelas aku merasa enak, merasa bebas, merasa merdeka."

"Kalau di KTP apa agamamu?"

"Ya Islam."

"Lho kok Islam?"

"Ya untuk formalitas saja. Biar tidak membuat sedih banyak orang. Termasuk kakek dan nenek saya yang sangat fanatik dengan agama Islamnya."

"Itu berarti kamu munafik."

"Kalau munafik itu enak kenapa tidak?"

Zul jadi pusing memikirkan makhluk di hadapannya. la tidak mengira akan pernah menjumpai manusia seperti itu dengan cara berpikir seperti itu.

"Baiklah Mas, saya akan cerita sedikit tentang pekerjaan saya. Daripada nanti Mas mendengar cerita yang sinis dari orang lain. Lebih baik Mas langsung mendengar dari saya. Lebih baik saya jujur daripada saya disebut munafik lagi. Sudah saya katakan agama saya adalah agama enak. Pokoknya yang enak-enak itulah inti ajarannya. Maka saya cari profesi adalah juga profesi yang menurut saya paling enak. Dalam ajaran agama saya, profesi saya tidaklah sebuah kejahatan. Tapi di agama lain bisa jadi profesi saya disebut sebuah kejahatan bahkan dosa besar. Aku tak peduli, aku punya agama sendiri.

"Profesi saya adalah menyenangkan orang-orang penting. Orang-orang yang memerlukan hiburan. Pekerjaan saya adalah menghiburnya. Tapi orang-orang awam menyebut orang seperti saya ini sebagai pelacur. Ada juga yang menyebut sebagai perempuan sundal.

Macam-macam lah sebutannya. Tapi saya, berpegang pada keyakinan saya, maka saya menyebut diri saya adalah seniwati. Saya menjual jasa. Dan jasa saya adalah seni dan keindahan. Itulah saya Mas. Bagaimana menurut Mas?"

"Aku hanya merasa kasihan padamu?"

"Kasihan, kenapa kasihan?"

"Entahlah, hanya merasa kasihan saja. Aku ini orang awam juga. Tidak tahu apa-apa. Agama juga tidak tahu.
Hanya mendengar apa yang kaukatakan nuraniku mengatakan orang seperti kamu ini sebenarnya bukan hidup enak dan hidup senang. Tapi hidup dalam keadaan sangat memprihatinkan. Dan perlu dikasihani."

"O ya?"

"Terserah. Cuma aku yakin, yang tadi bicara bukan nuranimu tapi nafsumu. Nanti suatu ketika saat engkau menderita sakit, coba aku ingin dengar apa yang akan kaukatakan dan kauucapkan?"

"Kau ini jahat. Masak berharap aku sakit dan
menderita."

"Kau salah sangka. Sama sekali aku tidak berharap. Tapi manusia yang normal terkadang ada saatnya sakit juga. Saat sakit itulah manusia lebih banyak berbicara dengan nuraninya daripada dengan nafsunya. Lha saya ingin tahu apa yang akan kaukatakan saat kau dalam keadaan seperti itu. Apakah berarti saat kau sakit kau sudah tidak beragama lagi. Karena rasa enak itu sudah tidak ada lagi. Atau bagaimana?"

"Saya akan bertahan dengan agama saya. Saya yakin dengan temuan saya."

"Yah kalau begitu, bagimu agamamu dan bagiku agamaku."










BAB 9

Dua bulan berlalu sejak Yahya mengajak Zul berbicara dari hati ke hati. Yahya berharap Zul bisa menemukan kesadaran prima dan semangat membaranya kembali seperti ketika awal-awal tinggal di flat itu. Namun harapan Yahya belum menjadi kenyataan. Kenyataannya Zul tetap banyak murung dan melamun. Tidak gesit dan semangat dalam bekerja, berusaha, dan belajar.

Seringkali Yahya menemukan Zul hanya tidur di kamar satu siang penuh, padahal ia yakin Zul ada jadwal kuliah dan kerja. Yahya biasanya mengingatkannya dengan bahasa sehalus mungkin, namun Zul seperti tidak mendengar apa-apa. Yahya beberapa kali menyarankan pada Zul jika memang harus mendapatkan Mari, kenapa tidak secara jantan menemui dan mengajaknya menikah. Obat paling mujarab untuk orang yang sakit karena cinta adalah menikah. Tapi Zul gamang dengan dirinya sendiri. Keraguan mengambil langkah telah membuatnya seperti orang yang kehilangan cahaya kehidupan. Keadaan Zul yang sedang sakit karena cinta itu menjadi perhatian dan keprihatian semua penghuni flat itu.

Pak Muslim merasa kuatir keadaan Zul semakin parah. Jika parah, maka bisa berpengaruh pada suasana rumah. Sudah dua bulan Zul tidak membayar uang sewa rumah. la minta dipinjami dulu. Namun ia bekerja tidak seserius dulu. Seolah bekerja seingatnya saja. Jika ingat bekerja, jika tidak ya tidak bekerja. Pak Muslim juga kuatir Zul tidak bisa mengikuti ujian semester depan jika sering bolos kuliah. Suasana rumah terasa mulai tidak nyaman. Maka Pak Muslim sebagai yang paling tua berinisiatif mempertegas sikap Zul. Jika ingin serius kuliah maka ia harus segera bangkit dan merubah sikap. Jika sudah tidak ingin kuliah, ia melihat Zul sebaiknya mencari tempat yang lain. Sebab kemalasan Zul bisa merusak situasi rumah yang selama ini nyaman dan kondusif untuk belajar.

Pak Muslim tidak mau perkataan najis satu tetes merusak kesucian air satu gentong terjadi di rumah itu. Dan tidak ada najis yang paling merusak kesucian umat yang ingin berprestasi kecuali kemalasan. Ia tidak mau Zul jadi najis itu. Zul harus diselamatkan. Jika Zul tetap memilih jadi najis itu maka ia harus disingkirkan agar tidak merusak kesucian semangat orang satu rumah. Pagi itu setelah shalat Subuh Pak Muslim membangunkan Zul yang masih mendengkur di kamarnya.

Berbeda sekali Zul yang dulu dengan Zul saat itu. Zul saat awal-awal datang dulu sudah bangun sebelum Subuh tiba dan selalu di shaf pertama. Tapi Zul saat itu adalah Zul yang harus berkali-kali diingatkan dan dibangunkan baru shalat Subuh dengan wajah malas tanpa cahaya.

Begitu Zul selesai shalat Pak Muslim langsung memanggil Zul ke kamarnya. Dengan menunduk Zul masuk ke kamar dosen Universitas Negeri Yogyakarta yang mengagumi pemikiran-pemikiran Muhammad Iqbal.

"Duduk sini Zul!" Pak Muslim mempersilakan Zulduduk di kursi yang ada tepat di depannya. Setelah Zul duduk, Pak Muslim langsung menutup pintu kamarnya.

"Zul, sudah tiga bulan ini aku lihat kamu sangat berbeda dengan saat kau pertama datang. Apa sebenarnya masalahmu Zul?"

"M...tidak ada masalah Pak. Saya biasa-biasa saja."

"Zul kau masih ingin kuliah?"

"Ya tentu Pak."

"Kau sadar dengan yang kauucapkan?"

"Tentu saja sadar Pak."

"Bagus. Jika kau ingin tetap lanjut kuliah kau harus bangkit dan mengembalikan semangatmu. Cukup tiga bulan saja kamu sakit. Ingat Zul, setiap detik kau berada di Kuala Lumpur ini ada harganya. Dan kau harus membayarnya. Flat ini kita menyewa. Air yang kaugunakan untuk membersihkan dirimu saat buang air juga harus dibayar. Kau makan tidak gratis. Kuliah tidak gratis. Semua ada tagihannya. Jika kau terus malas dan murung seperti itu kau tidak akan bertahan hidup. Kalau pun kau tetap hidup kau tak lebih bernilai dari sampah. Sampah masih bisa didaur ulang. Tapi manusia yang
telah mati sebelum mati jauh merepotkan dari pada sampah.

"Aku ingin melihatmu berjaya. Meraih prestasi yang gemilang Zul. Sungguh aku sangat menginginkan itu. Aku akan membantumu semampuku. Itu jika kamu mau. Jika kamu tidak mau aku tidak berhak memaksamu. Kau lebih berhak menentukan jalan hidupmu.

'Aku tahu kau masih sakit. Hatimu masih dijajah oleh rasa cintamu pada wanita yang kaucintai itu. Ketahuilah Zul, tak ada dokter yang bisa menyembuhkanmu kecuali kamu sendiri. Sebagai orang tua, aku hanya bisa memberikan beberapa saran untuk kebaikanmu dan kebaikan kita bersama.

"Saranku yang pertama Zul, jika kamu ingin sukses dan berhasil lupakan wanita itu. Jodoh itu tanpa dikejar,
tanpa dibuat bersakit-sakit seperti kau sekarang ini jika tiba saatnya akan datang juga. Jodohmu sudah ditulis oleh Allah. Kalau jodohmu memang wanita bernama Siti Martini itu ya nanti Allah pasti akan mempertemukan kamu dengan dia. Tapi jika jodohmu bukan dia, sampai kau minta banruan seluruh jin di jagad raya ini untuk membantumu mendapatkan dia ya kamu tidak akan mendapatkannya.

"Sementara ilmu dan prestasi juga amal ibadah. Jika tidak kauusahakan dengan serius tidak akan kauraih. Ilmu tidak bisa kauraih dengan tiduran dan malasmalasan. Prestasi dan kesuksesan tidak akan kauraih kecuali dengan pengorbanan penuh pikiran, tenaga dan perasaan. Kalau perlu bahkan nyawa. Tak ada dalam catatan sejarah ada orang sukses hanya dengan melamun, tidur, dan banyak angan-angan seperti yang kaulakukan tiga bulan ini. Tak ada seorang juara di bidang apapun kecuali ia pasti seorang pejuang yang ulung. Kalau ingin mendapatkan ilmu yang cukup, berprestasi dan hidup sukses kau harus bangkit, bersemangat, memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dan gigih berjuang. Itulah jalannya orang-orang yang sukses.

"Zul, godaan wanita adalah godaan utama orang mencari ilmu. Dan fitnah perempuan adalah salah satu fitnah yang sangat dikuatirkan oleh Nabi akan melumpuhkan umatnya. Bahkan saat Nabi berdakwah di Makkah, di antara hal yang ditawarkan orang-orang kafir Quraisy untuk membujuk Nabi agar menghentikan dakwahnya adalah dengan mengiming-imingi Nabi akan dinikahkan dengan wanita paling cantik di Arab. Tapi Nabi menolaknya.

"Zul, siapa pun yang kasmaran, siapa pun yang jatuh cinta seperti kamu saat ini. Maka akal, pikiran dan perasaannya akan terus terfokus untuk mendapatkan yang dicintainya. Jika keadaan seperti itu terus berlarut, maka kewajiban-kewajibannya, tugas-tugas utamanya akan segera terlupakan. Dan saat itu hanya tinggal menunggu datangnya kebinasaan.

"Sudah tidak terhitung lagi jumlahnya pelajar dan mahasiswa yang gagal karena skandal cinta. Tidak terhitung jumlahnya pemimpin besar dunia yang terpuruk karena skandal cinta. Apakah kau mau menambah panjang daftar itu dengan memasukkan namamu.

"Penuntut ilmu jika jatuh cinta pada lawan jenisnya, maka ilmu itu tidak akan bisa melekat pada akal, pikiran dan hatinya. Sebab akal, pikiran dan hatinya telah dikotori oleh bayangan semu kekasih hatinya. Ada pujangga Arab yang menulis sajak begini Zul, Jika aku sedang sibuk dengan gadisku Yang parasnya laksana cahaya pagi Maka aku enggan memikirkan yang lain "Maka, aku ulangi lagi saranku yang pertama, jika kamu ingin sukses dan berhasil lupakan wanita itu. Saat
ini berkonsentrasilah sepenuhnya untuk menuntut ilmu. Jika ia jodohmu selesai S.2 aku doakan semoga bertemu. Dan bertemu dalam keadaan yang paling baik dan paling barakah. Jika dia tidak jodohmu, semoga kau dianugerai jodoh yang lebih baik dalam segalanya dari wanita itu."

Zul diam saja di tempatnya. Ia tidak membantah, juga tidak mengiyakan. Tapi ia mendengarkan dengan seksama. Pak Muslim jarang sekali bicara serius seperti ini. Jika Pak Muslim bicara seperti ini artinya masalah yang terjadi memang sudah parah.

Pak Muslim mengambil nafas sebentar lalu melanjutkan,

"Saranku yang kedua Zul, jika kau tidak bisa mengikuti saranku yang pertama, aku sarankan kau untuk mendatangi wanita itu secara jantan. Dan nikahi dia. Luapkan seluruh cintamu padanya. Dan hiduplah dalam keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Menikah itu jauh lebih baik daripada kau hanya memikirkan dia siang malam sampai sayu seperti mayat hidup.

"Jika kau memilih saran yang kedua ini, aku akan membantumu semampuku. Aku akan meminjami modal untuk pernikahanmu semampuku. Aku bersedia mengantarmu menemui wanita itu, juga bersedia membantumu menemui keluarganya. Dan jika ini yang kauambil, aku minta kau jangan berhenti kuliah. Tetaplah lanjutkan kuliah. Hiduplah sehemat mungkin. Tetaplah bertahan sampai lulus. Kau harus lebih giatbekerja dan berusaha. Sebab kau tidak hanya menanggung beban hidup dirimu sendiri, tapi juga menanggung orang lain.

"Jika saranku yang kedua juga tidak bisa kauikuti, maka aku punya saran ketiga, yaitu ya terserah kamu. Hiduplah sesukamu. Terus seperti sekarang juga boleh. Tapi dengan memohon pengertiannya aku minta kau meninggalkan rumah ini. Bukan kami tidak sayang dan tidak menghargai kamu. Sama sekali tidak. Kami menghargai kamu, dan cara hidupmu. Tapi perlu kamu ketahui juga, cara hidupmu yang hanya malas-malasan, banyak melamun dan berangan-agan itu dapat meracuni kesehatan lingkungan rumah ini. Cara hidupmu yang mulai tidak memikirkan membayar flat adalah cara hidup orang yang tidak bertanggung jawab. Itu dapat merusak rasa saling percaya yang telah tercipta dengan
indah di rumah ini. Jika kau pilih saran yang ketiga ini, kami akan membantumu mengangkatkan barangbarangmu,
juga akan membantumu menemukan tempat yang kauanggap cocok bagi cara hidupmu. Kau masih boleh bermain ke sini, tapi tak bisa tinggal di rumah ini.

"Itulah Zul, tiga saran yang bisa aku sampaikan kepadamu. Kau bisa memilih salah satunya. Dan kami tidak keberatan sama sekali yang mana yang kamu pilih.

Tapi jika boleh berharap saya pribadi berharap kaupilih yang pertama. Maafkan aku jika harus berlaku tegas padamu. Untuk sebuah kebaikan ketegasan tidak ada salahnya dilakukan. Dan ini pun terpaksa aku lakukan setelah melihat perkembanganmu yang tidak juga menunjukkan ada perbaikan."

Setelah menyampaikan tiga saran itu, bisa juga disebut tiga opsi untuk Zul, Pak Muslim diam menunggu reaksi Zul. Keheningan menyelimuti kamar itu sesaat lamanya. Zul tampak sedang mengolah saran Pak Muslim yang diseganinya itu. Pak Muslim yang selama ini sangat baik padanya. Bahkan, ia masih punya hutang beberapa ratus ringgit kepadanya untuk membeli sepeda motor butut, dan Pak Muslim tidak pernah menyinggungnyinggung hal itu sama sekali.

"Begini Pak," Suara Zul memecah keheningan. Pak Muslim langsung mengangkat mukanya dan menatap Zul penuh perhatian.

Zul merubah sedikit posisi duduknya lalu menyambung perkataannya,

"Saya minta maaf dan saya menyesal sekali jika kelakuan saya selama ini buruk. Dan itu membuat tidak nyaman rumah ini. Saya akui Pak, saya sedang tidak stabil. Saya berterima kasih sekali atas kesabaran Pak Muslim dan teman-teman selama ini. Saya juga berterima kasih atas saran-saran Pak Muslim. Saya telah menimbang ketiga saran itu. Terus terang saran yang pertama saya rasakan akan berat bagi saya. Saya kuatir saya akan semakin jatuh, semakin tidak bisa menahan perasaan yang mendera hati ini. Adapun saran yang ketiga, saya juga berat menerimanya, sebab saya masih tetap ingin menjadi orang baik dan sukses Pak. Saya bersyukur bertemu dengan orang seperti Bapak dan teman-teman yang masih mau mengingatkan dan menasihati. Jika saya pilih yang ketiga, saya rasa saya akan binasa. Dan jika saya terus begini, Bapak benar, saya akan binasa.

"Maka saya memilih saran yang kedua Pak. Lebih baik saya menikah saja dengan gadis itu. Dia masih gadis Pak. Dan baik hatinya."

Pak Muslim mengangguk-anggukkan kepala.

"Jadi kau benar-benar akan menikahi dia?"

"Iya Pak."

"Kau mantap?"

"Mantap Pak. Toh sudah saatnya saya menikah.

Sekarang atau besok sama saja, saya harus menikah."

"Kau siap dengan segala risikonya?"

"Siap Pak. Mas Yahya sudah memberikan gambaran yang jelas. Bapak tadi juga menambahkan penjelasan. Saya harus bagaimana jika menikah?"

"Bagus! Itu baru lelaki! Kalau begitu kau harus semangat, kau akan menikah Zul! Kau akan jadi suami! Kau akan jadi kepala rumah tangga! Kau akan jadi ayah! Ayo semangat!"

"Iya Pak! Saya akan bangkit! Saya akan semangat!"

"Bagus! Kenapa tidak begird sejak dulu-dulu itu Zul, hah!?"

"Jadi Bapak benar-benar mendukung saya menikahi dia?"

"Menikah kan baik, kenapa tidak saya dukung.

Sudahlah, kapan kau akan menemui dia, aku akan menemani kalau perlu. Dan kapan kau akan melamarnya?"

"Bagaimana kalau aku temui dia besok Pak?"

"Bagus semakin cepat semakin bagus! Sekarang kau harus melihat kembali jadwal-jadwalmu. Harus kautata. Jadwal kuliahmu. Jadwal kerjamu dan lain sebagainya."

"Iya Pak. Baik!"

"Besok ya berangkat menemui dia?"

"Iya Pak."

"Jam berapa Zul."

"Pagi-pagi saja Pak sebelum jam delapan. Dia biasa berangkat kerja jam delapan."

"Baik. O ya sebaiknya kau telpon dia dulu. Agar dia tidak pergi."

"Baik Pak."

Pak Muslim gembira melihat Zul kembali ceria. Orang jatuh cinta memang begitu. Jika harapan bertemu dengan yang ia cintai datang ia akan hidup penuh semangat dan harapan. Zul sendiri merasakan matahari kehidupannya yang selama ini redup kini kembali bersinar terang.

Zul langsung turun ke bawah mencari wartel. Satu wartel telah buka, ia langsung menghubungi nomor Mari. Berulang kali nomor itu ia hubungi namun tidak bisa nyambung. Ia agak kecewa. Ia kuatir Mari ganti nomor. Ia juga menyesal kenapa selama ini ia ragu-ragu dan gamang setiap kali mau menghubungi nomor Mari. Tiga bulan lebih, sejak kejadian percobaan pemerkosaan di rumah Mari itu, ia tidak berhubungan dengan Mari. Ia kuatir Mari telah pindah rumah. Tapi ia yakin Mari akan mudah dicari. Jika pun pindah rumah, teman-teman Mari pasti masih ada yang tinggal di situ.

Sorenya Zul kembali mencoba mengontak nomor Mari, tapi tidak berhasil juga. Berkali-kali operator seluler menjelaskan nomor itu sedang tidak aktif. Zul kembali ke flat dengan hati kecewa. Namun Zul tetap bersemangat besok pagi berangkat ke Subang Jaya untuk menemui Mari dan mengungkapkan isi hatinya. Temanteman satu rumahnya mendukung langkah yang akan diambil Zul. 
Rizal bahkan siap membantu mencarikan rumah yang harga sewanya murah untuk pasangan keluarga. Yahya menyemangati Zul untuk bangkit dan tidak kehilangan semangat.

Malam itu, untuk pertama kalinya Zul tidur dengan dada terasa lapang. Dan malam terasa segar dan ringan. Tidak seperti malam-malam sebelumnya yang ia rasakan terasa sumpek dan berat. Terbitnya harapan yang terang dalam hati membuat hidup terasa ringan dan menyenangkan.

* * *

Pagi itu ia telah bangun sebelum azan Subuh berkumandang. Mengetahui hal itu Pak Muslim sangat bahagia. Zul agaknya mulai mendapatkan kembali nyawanya. Selesai shalat Subuh Zul dan Pak Muslim langsung meluncur dengan KTM ke KL Sentral. Dari KL Sentral mereka naik bus Rapid KL ke Subang Jaya. Jam tangan Pak Muslim menunjukkan pukul 07.25 ketika mereka turun dari bus dan memasuki kawasan perumahan Taman Subang Permai. Hati Zul berdegup kencang ketika ia merasa semakin dekat dengan rumah Mari. Sepuluh menit kemudian mereka telah sampai di depan rumah Mari. Zul agak terkejut. Rumah itu sepi. Dan di pintu rumah serta di pagar gerbang rumah itu ada kain kuning yang terbentang bertuliskan: For Sale/ For Rent. Dan ada nomor telpon di bawahnya.

"Ini rumahnya Zul?"

"Iya Pak."

"Kauyakin."

"Tak mungkin salah Pak. Itu nomornya 8A."

"Berarti mereka telah pindah. Dan mungkin telah lama. Kaubaca kan rumah itu ditawarkan untuk dijual atau disewa."

"Iya Pak, terus bagaimana ini Pak?" kata Zul murung.

"Kau masih bersemangat untuk mencarinya?"

"Tentu Pak. Sampai ke ujung dunia pun kalau perlu."

"Wah kau ini, jawabanmu itu kayak lakon di film saja."

"Tapi aku harus menemukan dia Pak?"

"Gampang. Coba kita tanya tetangga sebelah. Siapa tahu mereka tahu ke mana pindahnya Siti Martini dan teman-temannya."

"Iya Pak."

Mereka berdua lalu bertanya pada tetangga sebelah kanan rumah itu. Yang mereka tanya seorang wanita Melayu setengah baya yang sedang menggendong anak kecil. Ketika Pak Muslim menanyakan perihal Siti Martini dan teman-temannya yang pernah tinggal di rumah No. 8A, wanita itu menatap penuh curiga. Pak Muslim menangkap kecurigaan wanita itu. la menegaskan bahwa dirinya bermaksud baik, tidak ada maksud jahat. Wanita itu malah masuk ke dalam rumah tanpa berkata apapun. Pak Muslim merasa ada yang tidak beres. Dua menit kemudian wanita itu keluar sambil membawa koran. la berikan koran itu pada Pak Muslim.

"Sila Encik bace berita itu baik-baik!" kata wanita itu.
Pak Muslim membaca berita di koran yang ditunjukkan oleh wanita itu. Pak Muslim membaca dengan seksama dengan wajah dingin. Zul yang berdiri di sampingnya turut membaca. Baru membaca tiga baris Zul langsut berkata setengah teriak,

"Tidak mungkin! Tidak mungkin ini terjadi!"
Wanita itu memperhatikan Zul dengan wajah heran
bercampur curiga.

Pak Muslim menuntaskan bacaannya sampai akhir.

"Tenang Zul, ini baca dulu sampai akhir baru kita
pikir dengan jernih," kata Pak Muslim tenang.

Dan dengan mata berkaca-kaca Zul membaca berita yang membuat hatinya remuk redam. Dengan jelas ia membaca nama inisial Siti M yang turut ditangkap pihakpolis. Selesai membaca berita di koran itu airmatanya meleleh. Dengan suara lirih tertahan ia berkata pada dirinya sendiri,

"Sia-sia aku menolongnya. Sia-sia aku mencintainya."

Pak Muslim menukas pelan, "Tenang Zul. Sabar!"

"Seminggu yang lalu polis menangkap mereke. Mereka semua penghuni rumah itu. Mereke semua perempuan lacur. Mereke menjadikan rumah itu markas pelacuran. Sekarang mungkin sedang dibui. Kalau boleh tahu Encik berdua ini ada hubungan apa dengan mereka berdua ya?"

Pertanyaan wanita muda itu membuat Pak Muslim agak tergagap. Ia sempat bingung menjawabnya. Tapi spontan ia menjawab,

"Dia ini adiknya, salah satu kakaknya ada yang tinggal di rumah itu. Dia ingin mengetahui keadaan kakaknya."

"Aduh kasihan. Kakak awak sekarang di dalam bui. Ya tapi begitulah semestinya balasan untuk pelacur, perusak moral masyarakat."

Hati Zul semakin perih. Ia mengajak Pak Muslim segera pergi meninggalkan tempat itu. Matahari harapan yang sempat bersinar di dalam hatinya kini sama sekali padam. Pak Muslim mengerti dengan kesedihan Zul.

Beliau membesarkan hati Zul dengan berkata,

"Ini skenario Allah yang terbaik Zul. Kau jangan malah lemah. Kau justru harus kuat. Sekarang fokuskan untuk belajar. Percayalah Allah akan memberimu ganti yang lebih baik. Percayalah!"

"Iya Pak, insya Allah ini jadi pelajaran sangat berharga bagi saya. Doakan saya ya Pak. Dan jangan bosan menasihati dan membimbing saya." Jawab Zul sambil menyeka airmatanya yang meleleh di pipinya.







BAB 13


Tiga hari kemudian Zul terbang ke Yogyakarta. Di Bandara Adi Sucipto ia dijemput oleh Pak Muslim. Begitu bertemu mereka berangkulan erat sekali. Pak Muslim tampak bahagia sekali bertemu dengan Zul, begitu juga Zul. Kesahajaan dan kesederhanaan Pak Muslim sama sekali tidak berubah, meskipun ia telah menyandang gelar doktor. Ia berpakaian biasa, layaknya orang biasa. Orang yang tidak mengenal Pak Muslim bisa jadi menyangka beliau adalah tukang ojek. Sebab saat itu beliau memakai batik warna tua yang tersembunyi dalam jaket cokelat yang tampak tua. Warnanya telah berubah karena terkena panas dan hujan.

Pak Muslim menjemput dengan mobil Katana tuanya. Beliau langsung membawa Zul ke rumahnya di sebuah perumahan di daerah Maguwoharjo. "Rumah ini masih menyewa Zul," kata Pak Muslim begitu sampai di rumahnya. 

"Doakan tahun depan ada rejeki untuk membeli rumah. Meskipun dengan mengangsur," lanjutnya.

"Semoga Pak."

"Ayo masuk. Kita cuma berdua di rumah ini. Isteriku sedang tugas ke Semarang. Dua anakku sedang di rumah
eyangnya di Solo."

Begitu masuk Pak Muslim langsung ke dapur membuatkan minuman.

"Adanya ini Zul." Kata Pak Muslim sambil membawa dua gelas berisi air sirup berwarna hijau.

"Nyaman hidup di Jogja Pak ya?" tanya Zul.

"Nyaman dan tidaknya hidup itu yang mengkondisikan adalah Hati dan pikiran kok Zul. Kalau aku di mana saja merasa nyaman. Aku tak pernah kuatir atau takut sebab aku yakin Allah mengasihiku."

"O ya Pak tentang lowongan itu. Ada berapa kursi? Kira-kira yang daftar banyak tidak?"

"Cuma enam kursi saja. Secara keseluruhan, yang daftar mungkin puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan. Saya tidak tahu persis. Tentang peluangmu, ya yakin saja ini adalah rejekimu. Tapi untuk Sosiologi Pendidikan, saya lihat yang daftar sampai kemarin belum terlalu banyak, kira-kira baru belasan orang. Peluangmu mungkin bagus. Apalagi hanya kau yang meraih M.Ed, dari luar negeri."

"Doanya Pak."

"Semoga. Syarat-syarat sudah lengkap semua?"

"Yang belum foto Pak."

"Nanti foto kilat saja. Supaya besok berkas kamu bisa dimasukkan."

"Iya Pak."

"O iya Zul. Kamu tidak ada rencana nikah? Atau masih mengharap yang di Subang Jaya?"

"Aduh jadi malu. Jangan diingat-ingat Pak. Tapi penggerebekan di Subang Jaya seperti yang tertulis di koran itu ternyata tidak seperti itu lho Pak. Saya jadi merasa berdosa karena berburuk sangka pada semua isi
rumah itu."

"Terus sebenarnya bagaimana?"

Zul lalu menceritakan pertemuannya dengan Sumi di Hentian Kajang. Dengan detil dan panjang lebar Zul menjelaskan apa yang ia dapat dari Sumi. Pak Muslim mengangguk-angguk.

"Hmm saya juga berburuk sangka lho Zul. Jika tidak kauberitahu mungkin selamanya dalam pikiran saya yang ada ya persepsi itu. Persepsi satu rumah itu pelacur semua. Kan kasihan mereka yang tidak berdosa. Ini jadi pelajaran penting bagiku Zul. Kabar apa pun saat ini, di akhir zaman ini harus dicek. Berita saat ini sepertinya kok lebih banyak bohongnya, lebih banyak munafiknya daripada jujurnya."

"Ya alhamdulillah, Allah mempertemukan saya dengan Sumi Pak."

"Terus tentang nikah. Jadi setelah tahu kabar itu apa masih mau mengejar si Siti Martini itu? Atau bagai mana?"

"Aduh Pak itu masa lalu. Sudah biarlah berlalu Pak. Dunia ini kan luas. Jumlah wanita di atas muka bumi ini miliaran Pak. Gadis Muslimah yang belum menikah jumlahnya jutaan Pak, kenapa saya mesti mempersusah diri."

"Wah kamu sudah berubah Zul. Tapi ada satu sifatmu yang aku sangat salut. Dan aku berharap sifat itu tidak pernah berubah apalagi hilang dari dirimu."

"Apa itu Pak?"

"Jujur dan tidak mengada-ada. Itu yang aku suka padamu. Jujur itulah sifat yang mutlak harus dimiliki seorang pendidik di negeri ini. Karena kejujuran sekarang ini jadi barang yang sangat langka Zul."

"Doakan saya bisa terus istiqamah Pak."

"Semoga Zul. O ya kembali tentang nikah. Muslimah seperti Apa yang sekarang kauinginkan. Mungkin aku bisa membantu. Tidak hanya membantumu tapi juga membantu kaum Muslimah yang ingin menikah tapi belum menemukan jodoh. Siapa tahu di antara mereka ada yang sesuai untukmu."

"Yang salehah dan jujur Pak. Ah Pak Muslim kan sudah pernah tinggal bersama saya lebih dari satu tahun. Pasti Pak Muslim tahu yang cocok buat saya."

"Ini Zul. Ada Muslimah baik sekali. Ini menurut isteri saya. Sebab Muslimah ini kenal baik dengan isteri saya. Pernah satu kampus di Bandung dulu. Dia sokarang kalau tidak salah dosen di Universitas Semarang. Baru menyelesaikan Master Ekonominya di UKM Malaysia."

"Umurnya berapa?"

"Ya seumuran isteri saya."

"Kalau seumuran isteri Bapak, berarti sudah tua dongPak."

"Ei jangan salah. Kau tahu berapa umur isteri Baya?"

"Berapa Pak?"

"Dua puluh delapan tahun. Kau umurmu berapa?"

"Dua Delapan."

"Berarti malah seumuran kan sama kamu. Bagaimana?"

"Boleh Pak."

"Kalau boleh tahu. Dia berjilbab Pak?"

"Kamu ini Zul. Isteri saya ini aktivis dakwah, masa mau mencarikan kamu yang suka tabarruj. Ya pasti berjilbab rapat-lah Zul."

"Kalau begitu boleh Pak. Boleh tahu namanya Pak?"

"Namanya agak panjang Zul. Tapi seingat saya depannya Agustina. Isteri saya kalau memanggil dia Mbak Agustin begitu. Tapi nama penanya kalau dia nulis di koran Asma Maulida, M.Ec. Sebentar aku cari koran dulu. Ada beberapa tulisan dia yang bagus kok."

Pak Muslim beranjak menuju rak tempat majalah dan koran tertumpuk. la mengolak-alik beberapa koran sesaat lamanya.

"Lha ini dia." Seru Pak Muslim gembira.

"Ini Zul tulisan dia coba kaubaca." Pak Muslim menyodorkan koran itu pada Zul.

Zul membaca dengan seksama. Runtut, rapi dan argumentatif. Bahasanya enak dibaca.

"Baguskan?"

"lya Pak?"

"Rapi dan runtut kan?"

"Iya."

"Itulah cermin kepribadiannya. Saya pernah bertemu dengannya. Saya salut. Sangat berkarakter orangnya. Kira-kira bagaimana Zul?"

"Saya manut Pak Muslim saja."

"Baik. Mumpung isteri saya ada di Semarang. Biar dia urus sekalian. Saya telpon isteri saya sekarang saja."

Pak Muslim mengeluarkan hand phone-nya dan memanggil isterinya. Langsung nyambung. Zul hanya mendengar suara Pak Muslim:

"O jadi malah sedang bincang-bincang sama dia?"

"Di mana Dik, di Warung Bentuman?"

"Dia belum ada calon kan?"

"Ini, temanku satu rumah yang pernah kuceritakan dulu itu lho Dik."

"Ya, sudah selesai M.Ed dari Universiti Malaya."

"Namanya Ahmad Zulhadi Jaelani. Tulis saja A. Zulhadi Jaelani, M.Ed."

Lalu Pak Muslim menarik hand phone-nya dari telinga kanannya dan bertanya pada Zul.

"Zul, tanggal lahirmu berapa?"

"21 April 1985 Pak." Jawab Zul.

Pak Muslim lalu menyampaikan hal itu pada isterinya. Tak lama kemudian beliau menyudahi pembicaraannya. Lalu kembali berbicara pada Zul.

"Namanya juga ikhtiar. Ya semoga saja ini berhasil."

"Jadi Agustin itu masih belum punya calon Pak?"

"Ya kata isteri saya begitu. Dia berharap proses kali ini adalah prosesnya yang terakhir. Proses yang
mengantarkannya memiliki rumah tangga yang mawaddah wa rahmah."

"Amin. O ya Pak, terus terang saja Pak ya. Bapak ada foto dia?"

"Wah sayang tidak punya Zul. Tapi jangan kuatir Zul. Kata isteri saya, biar prosesnya cepat. Artinya kalau iya ya biar segera diijab kalau tidak ya biar cepat ketahuan tidaknya, Agustin akan ikut isteri saya ke Jogja."

"Mau datang ke sini?"

"Iya. Biar bertemu kamu. Kamu juga biar tidak penasaran. Biar itu tadi cepat jelasnya kalau iya ya biar segera diijab kalau tidak ya biar cepatketahuan tidaknya. Kalau misalnya tidak jadi, karena kau tidak cocok kan sama-sama cepat tahunya. Dan bisa mencari yang lain yang cocok. Kalian kan sudah berumur. Tidak perlu ditunda-tunda atau proses yang rumit dan berbelit-belit tho?'

"Iya Pak sepakat."

* * *
Rumah Pak Muslim memiliki tiga kamar. Kamar utama, kamar tamu dan kamar anak. Zul ditempatkan di kamar tamu yang sekaligus merangkap sebagai perpustakaan. Kamar itu penuh buku. Kebanyakan buku-buku tentang pendidikan dan ekonomi. Pak Muslim adalah pakar manajemen pendidikan. Sementara isterinya adalah dosen mata kuliah ekonomi di sebuah Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi di Yogyakarta.

Siang itu setelah selesai memasukkan berkasnya ke UNY ia diantar Pak Muslim pulang. Ia memang harus istirahat. Sebab sebelumnya ia begadang bersama Pak Muslim di sebuah warung angkring sampai larut malam. Pak Muslim sendiri juga istirahat di kamarnya. Ia telah diberi ijin oleh Pak Muslim kalau mau membaca-baca koleksi perpustakaan pribadinya.

Siang itu ia tidak langsung tidur. Tapi ia melihat-lihat buku yang ada di kamar itu. Banyak judul-judul baru terbitan Indonesia. Ia senang dengan perkembangan penerbitan buku di Indonesia yang semakin marak. Tibatiba kedua matanya tertuju pada warna sampul sebuah buku yang sepertinya pernah ia lihat. Ia ambil buku itu.Buku bersampul biru tua. Terbitan Oxford University Press. Judulnya Game Theory with Applications to Economics. Rasa-rasanya ia pernah memegang buku itu.

Ia mencoba mengetes ingatannya. Di mana ia pernah memegang buku seperti itu. Ia mengingat-ingat tempattempat ia bisa mengambil dan membaca buku. Akhirnya ia ingat di kamar Mari di Subang Jaya, saat ia pertama kali tiba di Malaysia. Ia tersenyum bahagia ingatannya masih tajam.

Ia buka buku itu. Halaman pertama. Dan ia bagai tersengat listrik. Nama pemilik buku itu dan tanda tangannya sama dengan yang ia baca di Subang Jaya: Laila Binti Abdul Majid, TTDL Kuala Lumpur. Pikirannya langsung nyambung ke Prof. Datin Laila Abdul Majid. Diakah pemilik buku ini? Dan ia yakin buku yang ada di tangannya adalah buku yang beberapa tahun lalu ia pegang di Subang Jaya. Lalu bagaimana buku itu bisa sampai di rumah ini? Puluhan kemungkinan dan pertanyaan berkelebat dalam pikirannya. Ia tak mau pusing. Ia merasa lelah dan harus istirahat. Masalah buku itu bisa ia tanyakan pad a Pak Muslim nanti. Lima belas menit sebelum azan Ashar berkumandang ia telah bangun. Pak Muslim telah duduk dengan pakaian rapi siap ke masjid di ruang tamu.

"Bagaimana istirahatnya? Enak?"

" Alhamdulillah. Sudah segar kembali Pak."

"Berarti sudah siap bertemu Agustin ya?"

"Jadi malam ini Pak?"

"Lhaiyalah?"

"Cepatsekali."

"Kenapa berlambat-lambat jika bisa cepat."

"Di mana akan ketemu Pak."

"Di sini. Nanti habis Maghrib aku akan jempul mereka di Pertigaan Janti. Mereka naik bus Ramayana. Setelah shalat Isya kita ad akan majelis ta'aruf di sini."

Hati Zul bergetar hebat. Ia tidak pernah menyangka akan sangat cepat proses untuk bertemu dengan calon isterinya. Pak Muslim meneguk air putih yang ada di hadapannya. Zul kembali ke kamarnya untuk bersiap dan merapikan pakaiannya. la kembali keluar dari kamarnya sambil membawa buku bersampul biru tua itu.

"Dari mana dapat buku bagus ini Pak?" tanya Zul. Hatinya penasaran.

Pak Muslim mengulurkan tangannya. Zul memberikan buku itu pada Pak Muslim. Sesaat lamanya Pak Muslim mengamati buku itu.

"Isteri saya yang bawa."

"Dari mana dia dapat?"

"Saya tak tahu pasti Zul. Nanti malam saja kita tanyakan."

* * *
Usai shalat Maghrib Pak Muslim meluncur ke Pertigaan Janti dengan Katana tuanya. Zul memilih iktikaf di masjid sampai Isya. Sebelum azan Isya berkumandang Pak Muslim sudah tiba di masjid dan memberitahu Zul bahwa Agustin sudah ada di rumah.

"Jadi nanti pertemuannya alami saja Zul. Kita pulang dari shalat dan mereka sudah menunggu di ruang tamu. Kita langsung ngobrol dan bincang-bincang santai saja?"

"Saya cuma pakai sarung saja begini Pak?"

"Lha memangnya kenapa? Kalau pakai sarung apa terus hilang ketampananmu?"

"Nggak sih Pak. Nggak apa-apa."

"Agustin sekarang aku lihat agak berubah."
"Berubah bagaimana?"

"Jadi lebih muda dan segar. Dulu waktu pertama kali bertemu bersama isteri di Semarang, ia kurus, agak sayu
dan tampak lebih tua dari umurnya."

"Kalau begitu bagus lah Pak."

"Ya, rejekimu Zul kalau kau punya isteri yang semakin tambah umur tapi wajahnya semakin tambah muda."

"Amin ya Rabb."

Azan Isya dikumandangkan. Jamaah berdatangan. Shalat sunnah didirikan. Lalu iqamat disuarakan. Shaf-shaf dirapikan. Dan sang Imam mengucapkan takbiratul ihram. Zul mengikuti takbir Imam dengan hati bergetar.

Shalat jamaah didirikan dengan penuh kekhusyukan. Dalam sujud Zul berdoa agar dilimpahi kebaikan dunia dan akhirat, serta diberi pasangan hidup yang menjadi penyejuk hati, teman sejati dalam mengarungi hidup beribadah kepada Allah Azza wa Jalla.

Selesai shalat Pak Muslim dan Zul melangkah pasti ke rumah. Semakin dekat dengan rumah hati Zul semakin bergetar hebat. Ia akan bertemu dengan Agustin. Yang dalam bayangannya akan menyejukkan hatinya. Zul sampai di halaman. Pak Muslim melangkah duluan. Dari halaman ia bisa melihat dari terawang sela-sela gorden, ada dua Muslimah berjilbab yang sedang berbincang di ruang tamu. Namun tidak jelas. Jantungnya semakin keras berdegup. Ia berusaha menguasai dirinya, dan menenangkan batinnya.

Pak Muslim sudah mengucapkan salam. Dua Muslimah itu menjawab bersamaan. Zul mencopot sandalnya. Pandangannya menunduk ke lantai. Pak Muslim masuk. la mengikuti di belakang. la memandang ke depan. Dan...
Pandangannya bertatapan dengan pandangan seorang perempuan berwajah bersih, wajah yang dibalut jilbab merah muda. Wajah yang pernah ia kenal. Mata yang pernah ia kenal. Dan...

BERSAMBUNG



Tidak ada komentar:

Posting Komentar