Pages

Kamis, 13 Februari 2014

Karena Cahaya Menikah Itu Indah

 "Tetapkan satu pilihan berbalutkan shalat istikharah, prasangka baik, dan harapan meraih keridhaan Allah. Segala kekurangan yang kita takutkan, InsyaAllah menjadi kekuatan. Selanjutnya, kita selayaknya yakin, bahwa Allah Maha Memudahkan..."
"Karena di dunia ini tidak ada yang sempurna, terkadang Ananda-lah yang harus menyesuaikan diri dengan kekurangan yang ada. Atau nanti Anada-lah yang akan mengubah kekurangan itu menjadi kelebihan. bukankah itu fungsi dakwah?"
-dikutip dari Kumpulan Cerpen Cermin Cahaya karya (Andi) Nur Syamsudin


Jadi, begitulah. Tak ada yang disangka, dan diduga. Namun, satu yang pasti, keyakinan bahwa Allah memberi selalu yang terbaik. Belum tentu baik menurut kita, tapi baik menurut Allah. 

Sering terlontarkan penggal kalimat manis makna, "Saya tidak tahu ini rahmat atau musibah, saya hanya berprasangka baik pada Allah..."

Sungguh indah. Berulang kali episode terekam sempurna, dalam konstelasi cinta Allah, kepada seorang hambaNya.

Dan beroleh dampingan hidup, adalah anugrah. Sebagaimana doa yang sering terlontar bahkan beberapa bulan sebelum proses bertaut, 

"Rabbana hablanaa min azwaajinaa, wadzurriyyatinaa qurrata a'yun waj'alnaa lil muttaqiina imaama"

Dan kini, doa itu bertambah-tambah. Dilengkapi dengan satu doa sakral, sebagaimana terekam dalam Al Qur'an surat Ash-Shaffat ayat 100, "Rabbi hablii minashshaalihin...". Allah, karuniakan kami keturunan yang shalih/ah. Meski tidak melulu maksud doa tersebut adalah keturunan berupa anak kandung, namun, kerinduan itu ada. Namun lagi, hati berdetak sembari berbisik manja, "Allah yang Maha Mengetahui, dan kamu tidak mengetahui..."

Allah mengetahui yang terbaik untuk kita, Allah mengerti dan memahami seberapa pantas kita untuk kemudian menerima amanah besar tersebut. 

Sekarang, adalah saat untuk kita beradaptasi. Menjalani kehidupan yang berbeda, sangat berbeda, dari sebelum akad terucap. Kehidupan bersama seorang lelaki asing, yang kini halal untuk kita berdua saling bergenggam menyatu asa dengannya.

Sekarang, adalah saat kita beraksi, menentukan target prestasi. Agar kita mampu menjalankan sebuah hadits, "Jika seorang hamba menikah, ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Maka, bertaqwalah kepada Allah untuk setengahnya lagi"

Pertanyaan berikutnya, apakah setelah menikah, perbaikan diri yang terbentuk, atau justru sebaliknya? Terbuai kesenangan (yang disebabkan) oleh wanita, sebagaimana telah Allah peringatkan untuk kita tidak lebih mencintai keluarga dibandingkan Allah dan rasul-Nya.

Pertanyaan selanjutnya, adakah peningkatan amalan yaumiyah setelah hidup berdua? Atau justru terlena dengan lelapnya tidur malam, dan kesenangan berdua yang melupakan Allah sebagai alasan pernikahan waktu itu. 

Pertanyaan selanjutnya, sudahkah rasa cinta itu terbentuk indah, terberkas bersama cahaya iman, atau sekedar nafsu yang beroleh pemuasan? Rasa cinta yang semesti ada dengan alasan Allah, dengan kekuatan dakwah, dan dengan hidangan rahmah dan mawaddah di dalamnya. 

Semoga kekurangan menjadi pencipta kebaikan satu sama lain. Semoga kesalahan menjadi sarana penghasil pahala satu dan satunya. Semoga kelalaian menjadi batu evaluasi dalam melesatkan ketercapaian amalan terbaik. 

Semoga kecintaan selalu tumbuh menyegar, sebagaimana doaku dulu, "Allah, berikanku cinta yang Engkau tanamkan, bukan cinta yang kutanam kepada seseorang. Karena ku tahu, cinta dari-Mu ada di saat halal telah bersua dengan masa-nya. Hingga bergenggam adalah penggugur dosa keduanya. Hingga bercanda adalah hal yang tak Engkau hitung sebagai ke-sia-an. Hingga setiap kebaikan, Engkau lipatkan sebagai pahala berdua, karena ada saling mengingat dan mentauladan. Ah, indah. Semoga dan semoga berkah. 

"Eh, koq orang-orang banyak yang bilang kita mirip sih, Dek?"
"Mbuh, mas, ga tau juga. Emang apanya yang mirip coba?"
"Hihi...apa ya? ga tau... Senyumnya kali ya?? Coba senyum, Dek? Nah kan, sama! Senyum kita sama-sama manisnya. Bikin mas kalau senyum itu jadi item manis, kan?"
"Yeee...maunya. Tapi bener koq. Item manis. Mas item, adek manis..hahaha..."

Andai pernikahan seujud kesetiaan Alpha Crucis dan Gamma Crucis. keduanya dalam konstelasi mini, setia saling menemani, dalam satu periode malam nan sunyi, melurus menyilang garis horison bumi, dekat dengan titik tujunya; selatan.
Subhanallah, sesuai arahan Sang Pencipta, keduanya tak hanya bersinar mencerahkan ketergelapan. Lebih dari itu, keduanya membantu ketersesatan... 
Oh, indahnya alam dengan sebongkah konstelasinya. Semoga kita dapat mereguk hikmah berserak di seantero alam...
 -dikutip dari Kumpulan Cerpen Cermin Cahaya karya (Andi) Nur Syamsudin
"Dan dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui (Q.S Al-An'am : 97)
Semoga mengingatkan, dan mengevaluasi biduk rumah tangga yang baru saja kita bangun bersama, Duhai Pendampingku... Doakan aku di setiap doa malammu... Beraih cahaya-Nya. Karena cahaya menikah itu indah. Allah yang menjaminkannya bukan?

teruntuk sosok yang merelakan berpeluh tiap pagi dan petang

@Ananda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar