Pages

Minggu, 03 Februari 2013

IKHWANUL MUSLIMIN

SIAPAKAH IKHWANUL MUSLIMIN ?
Wahai Ikhwanul Muslimin!

Setelah dua tahun sejak muktamar yang berlangsung di Dar Ali Lutfillah (pada tanggal 13 Dzulhijjah 1457 H), dunia telah menyaksikan berbagai peristiwa dan keadaan yang memprihatinkan. Belakangan gudang mesiu meledak dan bumi disulut api peperangan, padahal manusia menyangka mereka telah tinggal di bumi yang aman tenteram.
 Wahai ikhwan, kali ini kalian berkumpul untuk mengevaluasi lembaran-lembaran kerja, untuk mengetahui sampai di mana perjalanan manhaj dakwah kita dan sekaligus menyampaikannya, baik pada diri kita maupun orang lain. Mudah-mudahan hal itu merupakan pelita dan peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.

 Wahai ikhwan al-mujahidin dari seluruh penjuru Mesir yang malam ini berkumpul di tempat ini saya ingin kalian benar-benar memahami di manakah kedudukan kalian di tengah-tengah penduduk bumi di zaman ini? Di manakah posisi dakwah kalian antara dakwah yang ada? Jamaah apakah jamaah kalian ini? Dan untuk tujuan apakah Allah menghimpun, menyatukan hati, dan pandangan kita, serta menampilkan fikrah kita di saat dunia di landa situasi krisis dan merindukan kedamaian dan keselamatan

Ingatlah baik-baik wahai ikhwan!

Kalian adalah ghuraba' (orang yang dianggap asing) yang mengadakan perbaikan di tengah kerusakan manusia. Kalian adalah kekuatan baru yang dikehendaki oleh Allah untuk membedakan yang haq dan yang batil di saat pembeda di antara keduanya telah kabur. Kalian adalah da'i-da'i Islam, pembawa risalah Qufan, penghubung antara langit dan bumi pewaris Nabi Muhammad saw. dan para khalifah dari generasi sahabat.

Dengan inilah dakwah kalian lebih unggul daripada dakwah-dakwah yang lain, dan tujuan kalian lebih mulia daripada tujuan yang lain. Kalian bersandar pada tiang yang tegar dan berpegang pada tali yang kokoh yang tidak mungkin putus.

Kalian telah mengambil cahaya yang terang di saat manusia dalam kegelapan, tersesat, dan menyimpang dari jalan kebenaran. "Dan Allah berkuasa atas urusan-Nya tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya." (Yusuf: 21).



Tujuan

 Berdirinya sebuah Wadah Ikhwanul Muslimin untuk merangkul dan terangkum dalam pembentukan karakter pribadi generasi Muslim yang berpengang pada ajaran Islam yang benar. Dimana generasi tersebut akan berusaha mewarnai umat dengan wrna islam yang sempurna dalam semu a Aspek kehidupan. Menjadi suri tauladan bagi umat lainnya dalam berpengang teguh pada ajaran Islam.


 Landasan Teori
Allah swt. telah menyimpulkan misi seorang Muslim yang benar dalam satu ayat Al-Qur'an. Kemudian Al-Our'an menyebutnya lagi secara berulang-ulang dalam beberapa ayat. Ayat yang mengisyaratkan tentang misi seorang Muslim dalam hidup adalah,

"Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur'an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusa, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu kepada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong." (AI-Hajj: 77-78)

Alangkah jelas pernyataan itu, tak ada kesamaran yang tersisa padanya. Alangkah terang pernyataan itu, seterang fajar, sebenderang cahaya siang. Ia memenuhi ruang pendengaran dan menyusup ke dalam relung hati, tanpa ada yang bisa menghalangi. Demi Allah, sungguh pernyataan itu menyimpan kelezatan yang teramat manis. Belum pernahkah kaum muslimin mendengar panggilan itu, sebelumnya? Atau apakah mereka telah mendengarnya, tapi ada kunci-kunci yang menutupi ruang hati mereka, hingga mereka tak lagi bisa merenungi, memahami dan menyadarinya?

Di sini Allah memerintahkan mereka melakukan ruku' dan sujud serta mendirikan shalat; intisari ibadah, tiang Islam dan simbolnya yang paling menonjol. Allah juga memerintahkan mereka untuk menyembah-Nya dan tidak menjadikan sesuatu pun sebagai sekutu bagi-Nya. Allah juga memerintahkan mereka melakukan kebajikan sepanjang kemampuan mereka. yang dengan itu, secara. otomatis Allah sesungguhnya juga hendak melarang mereka dari melakukan kejahatan. Karena sesungguhnya kebajikan pertama itu adalah meninggalkan kejahatan. Alangkah sederhana, alangkah tepat, alangkah bersahajanya!

Di atas semua itu, Allah kelak akan memberikan keselamatan dan kemenangan. Itulah misi individu bagi setiap Muslim; ia harus melaksanakannya baik secara pribadi maupun bersama kelompok.


KEWAJIBAN JIHAD BAGI SETIAP MUSLIM
Allah telah mewajibkan jihad secara tegas kepada setiap muslim. Tidak ada alasan bagi orang Islam untuk meninggalkan kewajiban ini. Islam mendorong umatnya untuk berjihad dan melipatgandakan pahala orang-orang yang berpartisipasi di dalamnya, apalagi yang mati syahid. Tidak ada yang menandingi dalam besarnya pahala, kecuali orang-orang yang mengikuti jejak mereka di medan jihad. Allah mengaruniakan mereka berbagai kelebihan ruhiyah dan amaliyah, baik di dunia maupun di akhirat, yang tidak diberikan kepada selain mereka . Allah menjadikan darah mereka yang suci sebagai harga bagi kemenangan dunia serta lambang kemulian bagi keuntungan dan kejayaan di hari akhirat.

Allah mengancam orang-orang yang tidak turut dalam jihad dengan ancaman siksa yang sangat pedih. Allah menghinakan mereka dengan berbagai gelar dan sebutan yang buruk, menganggap mereka pengecut, pemalas, lemah, dan tertinggal di belakang. Allah menjanjikan untuk mereka kehinaan di dunia. Kehinaan yang tidak dapat di hapuskan kecuali dengan berangkat ke medan jihad. Sedangkan di akhirat, Allah menyiapkan untuk mereka siksa yang pedih. Mereka tidak dapat melepaskan diri dari siksa itu meskipun menebusnnya dengan emas sebesar gunung Uhud. Islam menganggap duduk-duduk, tidak mengikuti jihad, dan lari meninggalkan medan perang sebagai salah satu dosa besar, bahkan termasuk salah satu di antara tujuh hal yang membinaskan amal.


BEBERAPA AYAT AL-QUR'AN TENTANG JIHAD

1.       (Al-Baqarah: 216)

2.      (Ali Imran: 156-157)

    Pada ayat tersebut juga terkandung maksud bahwa kepengecutan adalah sifat orang kafir, bukan   sifat orang beriman.

3.      (Ali Imran: 169-170)

    Selanjutnya bacalah pula sampai ayat 175.

4.       (An-Nisa: 78)

Selengkapnya anda dapat membaca surat ini mulai ayat 71 sampai ayat 78.

Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk selalu waspada, berperang bersama tentara Allah, berkelompok atau sendiri-sendiri, sesuai dengan tuntutan situasi. Allah merangkai antara pedang dengan shalat dan shiyam, serta menerangkan bahwa perang tidak berbeda dengan keduanya dalam rukun Islam. Allah meyakinkan orang-orang yang masih ragu dan mendorong mereka untuk terjun ke dalam kancah peperangan dan arena maut dengan lapang dada dan keberanian yang menggelora dalam hati. Allah jelaskan kepada mereka bahwa jika mereka mati dalam keadaan berjihad di jalan-Nya, maka mereka akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan Allah tidak akan menyia-nyiakan infaq dan pengorbanan mereka.


5.    Surat Al-Anfal

"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang. Dengan begitu, kamu menggetarkan musuh Allah dan musuh kamu." (Al-Anfal: 60)

Sampai pada firman-Nya,

“Hai nabi, kobarkanlah semangat orang-orang mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantara kamu, mereka dapat mengalahkan seribu dari orang kafir, sebab orang-prang kafir itu tidak mengerti." (A;-Anfal: 65)

Adapun tentang "peraturan", Allah swt. Berfirman dalam surat Ash-Shaf,

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (Ash-Shaf: 4)

Al- Fath  ( Kemenangan ) 18-19

Inilah wahai saudaraku, beberapa hal yang bisa dituturkan dalam kaitan dengan jihad; penjelasan tentang keutamaannya, ajakan kepadanya, dan kabar gembira bagi pelakunya dengan semacam itu, maka renungkanlah, niscaya engkau akan tercengang betapa orang-orang muslim saat ini begitu mengabaikan pahala agung yang dijanjikan Allah ini.

Berikut nukilan beberapa hadits tentang hal ini:


BEBERAPA HADITS NABI TENTANG JIHAD

1.    Dari Abu Hurairah ra, berkata saya mendengar Rasulullah saw bersabda,

"Demi zat yang diriku ada ditangan-Nya. Kalau bukan karena beberapa orang dari kalangan mukmin, yang jelek mentalnya dan tidak ikut berjihad bersamaku lalu aku tidak mendapati cara untuk mendorongnya, niscaya aku tidak ketinggalan dari satu pun peperangan di jalan Allah. Demi zat yang diriku ada ditangaNya, saya sungguh ingin terbunuh di jalan Allah kemudian hidup lagi, kemudian terbunuh dan hidup lagi, kemudian terbunuh dan hidup lagi, kemudian terbunuh." (HR. Bukhari dan Muslim)

2.    Dari Abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasulullah saw. Bersabda,

"Demi dzat yang diriku ada ditanga-Nya, tidaklah seseorang terluka di jalan Allah-Allah Mahatahu siapa yang pantas terluka di jalan Allah-kecuali ia datang pada hari kiamat; warna (luka)nya warna merah darah, tetapi baunya aroma misik."

Dan Kutipan Hadist Lainnya* Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin 2.


YANG TERMASUK JIHAD

." Para sahabat bertanya, "Apakah jihad besar itu?" Rasulullah saw. menjawab, 'Jihad terhadap hati atau jihad melawan hawa nafsu."

Ada beberapa hal yang termasuk jihad, yakin amar ma'ruf nahi munkar. Telah disebutkan dalam sebuah hadits, "Seagung-agung jihad adalah kata-kata hak yang diucapkan di hadapan penguasa yang jahat."

Namun semua itu tidak akan menjadikan pelakunya memperoleh syahid kubra (syahid besar) dan mendapat pahala mujahidin,  sebagaimana jika ia berperang atau diperangi di jalan Allah.


ISLAM YANG UTUH

Wahai Ikhwan!

Islam itu bukan sebagaimana makna yang dikehendaki para musuh agar umat Islam terkurung dan terikat di dalamnya, islam adalah aqidab dan ibadah, negara dan kewarganegaraan, toleransi dan kekuatan moral dan material, peradaban dan perundang-undangan. sesungguhnya seorang muslim dengan hukum Islamnya dituntut untuk Memperhatikan semua persoalan umat Barangsiapa yang tidak memperhatikan persoalan kaum muslimin, dia bukan termasuk golongan mereka

Saya yakin para salafus shalih -semoga Allah melimpahkan ridha kepada mereka- tidak memahami Islam selain dengan makria ini. Dengannya mereka berhukum, demi kejayaannya mereka berjihad, di atas kaidah-kaidahnya mereka bergaul dan berinteraksi, serta pada batas-batasnya mereka mengatur setiap urusan dari urusan-urusan kehidupan dunia yang operasional, sebelum nantinya urusan-urusan akhirat yang spiritual. Semoga Allah berkenan memberi rahmat kepada Sang Khalifah Perdana tatkala beliau berkata, "Seandainya tali untaku hilang, tentu aku akan mendapatkannya dalam Kitabullah."

Setelah batasan global dari makna Islam yang syamil dan subtansi makna politik yang tidak terkait dengan kepartaian ini, saya bisa mengatakan secara terus terang bahwa seorang muslim tidak akan sempurna Islamnya. kecuali jika ia seorang politisi, mempunyai jangkauan pandangan yang jauh, dan mempunyai kepedulian yang besar terhadap umatnya. Saya juga bisa katakan bahwa pembatasan dan pembuangan makna ini (pembuangan makna politik dari substansi islam, pent.) sama sekali tidak pernah digariskan oleh Islam. Sesungguhnya setiap jam'iyah islamiyah harus menegaskan pada garis-gars besar programnya tentang Perhatian dan kepedulian jam'iyah tadi terhadap persoalan-persoalan politik umatnya, Kalau tidak seperti itu, jam'iyah tadi butuh untuk kembali memahami makna islam yang benar.

"Sesungguhnya jamaah Ikhwanul Muslimin telah menanggalkan mabda'-mabda'nya telah keluar  dari sifat-si fatnya dan menjadi sebuah jamaah politik, setelah sebelumnya merupakan jamaah keagamaan Kemudian setiap orang yang gemar menduga-duga akan terus melakukan berbagai ta'wil dengan berdasar kepada sebab-sebab perubahan menurut pandangannya itu,

Mustahil Ikhwan meniti jalan yang bukan jalan mereka, atau beramal untuk sebuah fikrah yang bukan fikrah mereka ' atau mensibghah diri dengan warna yang bukan warna Islam yang hanif.

"Shibghah Allah, dan adakah shibghah yang lebih baik dari pada (shibghah Allah? Dan kami hanya menghambakan diri kepada-Nya." (Al-Baqarah: 138)


KELUASAN TASYRI' ISLAMI

Ta'alim dan politik Islam sama sekali tidak mengandung substansi makna yang usang dan ketinggalan zaman Bahkan ia merupakan tata perundang-undangan (tasyri') yang paling jeli dan utuh. Sistem perundang-undangan telah mengakui dan zaman akan mengungkap kepada manusia tentang kejelasan masalah yang belum mereka ketahui, bahwa tasyri' islami telah mendahului tata perundang-undangan manapun dalarn hal kejelian di bidang hukum, presentasi permasalahan, dan keluasan sudut pandang. Hal ini banyak dibuktikan oleh pakar-pakar hukum non muslim, sebagaimana hal itu banyak disebut dalam buku-buku dan tulisan-tulisan mereka. juga diperkuat oleh muktamar-muktamar perundang-undangan internasional, yang membuktikan bahwa Islam telah meletakkan kaidah-kaidah global yang menjadikaan seorang muslim tidak akan meninggalkan medan yang luas untuk memanfaatkan setiap tasyri' yang berguna dan tidak bertentangan dengan asas-asas dan maqashid Islam. Islam memberi pahala dalam berijtihad dengan menepati syarat-syaratnya, menetapkan kaidah mashlahah mursalah, Mengategorikan 'urf (adat istiadat) sebagai salah satu penentu keputusan hukum dan sangat menghargai pendapat imam.

Kaidah-kaidah ini semuanya menjadikan tasyri' islami pada posisi puncak di antara perundang-undangan dan hukum-hukum yang ada.


PARTAI POLITIK

Saudara-saudara yang mulia...

Tinggal satu lagi makna politik dari sekian makna yang ada. Sangat berat untuk saya sampaikan bahwa makna tadi adalah makna yang disamakan dan selalu menyertai kata politik secara tidak proporsional dalam benak sebagian besar orang di kalangan kita. Makna itu adalah bahwa politik sama dengan kepartaian (al-hizbiyah).

Tentang partai politik, saya pribadi mempunyai pendapat khusus dan saya tidak ingin untuk memaksakan pendapat tadi kepada orang lain. Karena sesungguhnya hal itu bukan untuk kepentingan saya atau kepentingan seseorang. Akan tetapi saya juga tidak ingin merahasiakannya. Saya melihat bahwa kewajiban memberi nasehat kepada umat khususnya dalam situasi seperti ini, itulah sesungguhnya yang mendorong saya untuk mengungkapkan dan mendeklarasikannya kepada manusia secara jelas dan gamblang

Demikian pula saya berharap agar dipahami dengan baik bahwa ketika. saya berbicara tentang partai politik, bukan berarti saya akan berbicara dari partai yang satu kepada partai yang lain, atau mendukung salah satu partai di antara partai-partai yang ada, atau mengkritik yang satu dan memuji yang lain. bukan itu bukan bagian dari tugas saya. Namun saya akan membahas tentang prinsip kepartaian itu apa adanya dan mengungkapkan akibat-akibat serta pengaruh yang akan ditimbulkannya. Setelah itu saya biarkan partai-partai yang ada sepanjang sejarah ini dan juga opini umum, untuk menilainya. Dan balasan yang haq itu hanya milik Allah semata,

“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapat segala kebajikan di hadapannya, begitu pula kejahatan yang telah dikerjakannya.” (Ali Imran: 30)

Tuan-tuan, saya berkeyakinan bahwa partai politik, jika pun sesuai untuk sebagian kondisi dan sebagian negara, maka belum tentu sesuai untuk keseluruhannya. Dan partai politik selamanya tidak sesuai untuk negara Mesir, khususnya pada dekade ini, di mana kita menapaki era baru dan kita ingin untuk membangun bangsa kita dengan kokoh, yang hal itu membutuhkan penyatuan potensi, terkumpulnya berbagai kekuatan, pemanfaatan setiap spesialisasi, dan mencurahkan waktu sepenuhnya untuk upaya upaya perbaikan.

Seiring dengan tekad kita melakukan perbaikan internal ini, kita harus menyadari bahwa di belakang kita terdapat sebuah manhaj besar, yang menuntut kita untuk mengerahkan semua Potensi ke arah realisasinya, untuk menciptakan suatu bangsa yang dinamis, progresif, dan selalu siap dengan segala sarana dan prasarana modernitas. Itu semua tidak terwujud kecuali dengan adanya kepemimpinan yang shalih dan bimbingan yang lurus, sehingga terwujud sebaik-baik proses takwin (pembentukan). yang bakal mengikis habis ketidakberdayaan, kemiskinan, kebodohan, dan inferioritas. Karena semua itu merupakan faktor penyebab kehancuran dan kendala kebangkitan. Bukan di sini tempatnya untuk mengungkap rincian manhaj tadi, semoga ada waktu yang lain. Saya tahu kita semua merasa berat dengan beban yang harus dipikul, merasa betapa banyak tenaga dan potensi yang harus dikerahkan dalam menata tanzhim internal (baca: negara) di semua aspek kehidupan.

Kita telah menetapkan sistem politik wihdah (kesatuan tanpa kepartaian) dua kali. Setiap kali dari dua periode itu selalu menampakkan kecemerlangan dalam sejarah kebangkitan. Periode pertama adalah 'fajar kebangkitan yakni tatkala bangsa ini muncul dari dalam shaf yang satu dan bersatu-padu menyerukan dan menuntut haknya di tengah kebuasan para pemberangus dan penjajah, serta ketika kekuatan-kekuatan zhalim bercokol dalam pemerintahannya. Yang kedua adalah tatkala pembentukan 'front nasional' yang mengajak kita menapaki langkah kendati pendek, namun tidak bisa dipungkiri langkah itu mengajak ke depan.

Kita juga telah mencoba sistem multi partai berkali-kali. Namun tidak ada yang bisa kita lihat dan kita rasakan kecuali tercerai-berainya masyarakat, kerja yang berantakan, berbagai urusan rusak binasa, dekadensi moral, kehancuran rumah tangga, keterputusan hubungan kekerabatan, dan saat itulah musuh memanfaatkan situasi di tengah-tengah mereka yang bersengketa dan bercerai-berai.


ISLAM TIDAK MEREKOMENDASIKAN KEPARTAIAN

Wahai Ikhwan!

Setelah pernaparan di atas, saya yakin bahwa Islam yang merupakan dienul wihdah dalam segala hal, adalah agama kelapangan dada, kejernihan hati, ukhuwah yang shahih, dan kerjasama yang jujur antara seluruh lapisan masyarakat, apalagi sesama umat mukmin. Sesungguhnya bangsa yang bersatu sama sekali tidak akan merekomendasi, tidak merelakan, dan tidak menyetujui adanya sistem kepartaian. Al-Qur'an sendiri mengatakan,

"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai." (Ali Imran 103)

Rasulullah saw. bersabda, "Maukah kalian aku tunjukkan (amalan) yang lebih utama dari shalat dan shaum?" Mereka menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah!" Rasulullah saw. bersabda, "Melakukan ishlah (mendamaikan) antara sahabat!"

Semua konsekuensi logis yang diakibatkan oleh sistem kepartaian, seperti: perpecahan, pemutusan hubungan, perselisihan, dan permusuhan, semua itu sangat dibenci oleh Islam. Banyak hadit tegas dan ayat yang memberikan perhatian dan larangan yang kalian untuk tidak mendekatinya. Rincian hal itu panjang dan semua mungkin sudah mengetahuinya.


KEBEBASAN BERPENDAPAT

Wahai Ikhwan!

Bebaskanlah antara kepartaian yang slogannya adalah kebebasan pendapat dan kebebasan berselisih dalam berbagai pandangan baik yang umum maupun detailnya, dengan kebebasan berpendapat yang dibolehkan dan dianjurkan dalam Islam dan ungkapkan berbagai sudut pandang perbedaan -yang terkala sudah dalam rangka mencari kebenaran. Sehingga mana baik sudah jelas masalahnya, semua orang mau mengikutinya, demikian arus mayoritas, maupun ijma' para ulama. Dengan tegaknya tidak ada fenomena di tengah masyarakat kecuali tegaknya persatuan dan tidak pula di tengah para ulama kecuali kesepakatan.

Wahai Ikhwan!

Telah tiba saatnya untuk menggaungkan suara dalam rangka menghapus sistem kepartaian di Mesir. Telah tiba saat untuk mengganti hanya dengan sebuah sistem yang mempersatukan kata dan mengintograsikan semua potensi umat di bawah naungan manhaj islami yang shalih. Di mana dengan menggariskan akan mengoperasionalkannya semua kekuatan dan potensi bisa menyatu.

Dengan Prinsip-prinsip di atas, lkhwanul Muslimin melihat bahwa kewajiban mereka tidak bisa ditawar-tawar lagi baik dari deklarasikan Islam, kenegaraan, maupun kemanusiaan, mereka mendeklarasikan dan mengungkapkannya kepada manusia dengan penuh keimanan dan argumentasi yang kuat, dengan penuh keyakinan bahwa realisasi dari prinsip-prinsip itu merupakan satu-satunya jalan untuk memantapkan kebangkitan di atas asas dan pondasi yang paling utama.

"Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kepada sesuatu yang memberikan kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya. Dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan." (Al-Anfal, 24)


NIZHAMUL USAR

USRAH

Islam menekankan perlunya pembentukan usar (usrah-usrah) dari pengikut-pengikutnya, yang dapat membimbing mereka kepada puncak keteladanan, mengokohkan ikatan hatinya, dan mengangkat derajat ukhuwahnya; dari kata-kata dan teori menuju realita dan amal nyata. Karena itu -wahai saudaraku- usahakan agar dirimu menjadi batu bata yang baik bagi bangunan (Islam) ini.

Sedangkan pilar-pilar ikatan ini ada tiga; hafalkan dan usahakan untuk mewujudkannya, sehingga ia tidak hanya menjadi beban berat yang kering tanpa ruh.


1. Ta'aruf (Saling Mengenal)

la adalah awal dari pilar-pilar ini. Karenanya, saling mengenallah dan saling berkasih sayanglah kalian dengan ruhullah. Hayatilah makna ukhuwah yang benar dan utuh di antara kalian, berusahalah agar tidak ada sesuatu pun yang menodai ikatan kalian, hadirkanlah selalu bayangan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits yang mulia di benakmu. Letakkan di pelupuk matamu kandungan ayat-ayat berikut,

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara." (Al-Hujurat: 10)

"Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.'' (Ali Imram: 103)

Juga sabda Rasulullah saw. berikut,

"Seorang mukmin dengan mukimin lainnya itu ibarat bangunan yang sebagiannya mengokohkan yang lain,"

"Seorang Muslim itu saudara Muslim lainnya; tidak mendzalimi dan tidak menyerahkannya (kepada musuh)."

"Orang-orang yang beriman itu, dalam hal berkasih sayang dan berlemah lembut, semisal jasad yang satu."

Perintah-perintah Allah dan taujih-taujih Nabi ini-setelah berlalu generasi pertama umat Islam- telah (hanya) menjadi kata-kata penghias bibir kaum muslimin dan khayalan belaka di benak mereka, sampai kalian datang wahai Ikhwan yang saling mengenal. Kalian telah berusaha untuk menerapkannya di masyarakat kalian, dan kalian inginkan kembalinya ikatan umat yang saling bersaudara dengan jiwa ukhuwah islamiyah. Keselamatan untuk kalian jika kalian tulus, dan saya berharap demikian adanya. Allah adalah pelindung kalian.


2. Tafahum (Saling Memahami)

Ia adalah pilar kedua dari pilar-pilar sistem ini. Karenanya, istiqamahlah kalian dalam manhaj yang benar, tunaikan apa-apa yang diperintahkan Allah kepadamu, dan tinggalkan apa-apa yang dilarang. Evaluasilah dirimu dengan evaluasi yang detail dalam hal ketaatan dan kemaksiatan, setelah itu hendaklah setiap kalian bersedia menasehati saudaranya yang lain begitu aib tampak padanya. Hendaklah seorang akh menerima nasehat saudaranya dengan penuh rasa suka cita dan ucapkan terima kasih padanya.

Untuk akh yang menasehati, berhati-hatilah jangan sampai hatimu -yang secara ikhlas ingin memberi nasehat kepada saudaramu- itu berubah niat, meski hanya sehelai rambut. Jangan sampai ia merasakan adanya kekurangan pada sasaran nasehat, lalu menganggap bahwa dirinya lebih utama darinya. Kalau ia merasa tidak mampu memperbaikinya, biarkanlah selama kurang lebih sebulan penuh, lalu janganlah diceritakan aib yang ia lihat itu, kecuali kepada pemimpin usrah saja. Setelah itu, tetaplah dalam keadaan mencintai dan menghargainya, sehingga Allah swt. menetapkan keputusan-Nya.

Sedangkan untuk akh yang dinasehati, waspadalah jangan sampai engkau berubah sikap, menjadi keras hati kepada akh yang menasehati, meskipun hanya sehelai rambut. Kenapa demikian? karena mahabbah fillah (cinta karena Allah) adalah setinggi-tinggi martabat dalam agama, sedangkan nasehat adalah pilar agama itu. "Agama adalah nasehat." Allah swt melindungi sebagian kalian dari (kejahatan) sebagian yang lain, memuliakanmu dengan ketaatan kepada-Nya, dan memalingkan tipu daya setan dari kami dan kalian Semua.


3. Takaful (Saling Menanggung Beban)

Ia adalah pilar yang ketiga. Hendaklah sebagian dari kalian memikul beban sebagian yang lain. Demikian itulah fenomena konkret iman dan intisari ukhuwah. Hendaklah sebagian dari kalian senantiasa bertanya kepada sebagian yang lain (tentang kondisi kehidupannya). Jika didapatkan padanya kesulitan, segeralah memberi pertolongan selama ada jalan untuk itu. Hadirkan di benakmu kandungan sabda Rasulullah saw. ini,

"Seseorang berjalan (Pergi) dalam rangka memenuhi hajat saudaranya itu lebih baik dari pada itikaf satu bulan di  masjidku ini."

"Barangsiapa memasukkan kegembiraan pada ahlul bait dari kalangan kaum muslimin, Allah tidak melihat balasan baginya kecuali surga."

Semoga Allah mengikat hati kalian dengan ruh-Nya. Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.

Wahai Ikhwan ...

Pada berbagai tugas yang ada di hadapan kalian -jika kalian menyadari- dan pada berbagai pekerjaan yang ada di tangan kalian -jika kalian lakukan- ada sesuatu yang dapat menjamin terwujudnya pilar-pilar ini. Hendaklah kalian senantiasa mempelajari ulang berbagai kewajiban ukhuwah seputar ta'awun, dan masing-masing dari kalian evaluasi dirilah perihal penerapannya. Setelah itu, hendaklah setiap akh berusaha untuk hadir di setiap pertemuan yang telah disepakati, dan segeralah sisihkan dari harta yang dimiliki untuk kas usrah-nya hingga tidak ketinggalan seorang pun untuk menunaikan tugas-tugasnya.

Jika kalian telah menunaikan berbagai kewajiban -baik individu jamaah, maupun harta- ini, tidak syak lagi, pilar-pilar usrah ini akan segera terwuiud. Apabila kalian mengabaikannya, maka sistem ini akan berangsur rapuh dan matilah akhirnya. Pada kematiannya ada kerugian besar bagi dakwah, padahal ia adalah harapan Islam dan kaum muslimin seluruhnya.

Banyak di antara kalian yang mempertanyakan, "Kesibukan apa yang sesungguhnya ada pada mereka dalam pertemuan rutin usrah?" Pertanyaan itu mudah saja jawabnya. Lagi pula, alangkah banyaknya tugas-tugas yang mesti diselesaikan, namun betapa sedikitnya waktu yang tersedia. Adapun agenda yang hendaknya menyibukkan anggota usrah dalam pertemuannya. adalah antara lain:

1. Setiap akh menyampaikan persoalannya, sementara yang lain ikut terlibat membahas dan mencari penyelesaiannya. Semua itu dalam suasana ukhuwah yang tulus dan orientasi yang jernih hanya bagi Allah swt. Pada yang demikian itu ada proses peneguhan tsiqah dan pengokohan ikatan hati, "Orang mukmin adalah cermin bagi saudaranya," juga agar dapat terwujud sebagian saja dari apa yang disabdakan Rasul saw., "Orang-orang mukmin, dalam hal kasih sayang dan sikap lemah lembutnya itu ibarat jasad yang satu. Jika salah satu anggotanya mengeluh, maka anggota yang lainnya ikut merasakan dampaknya; demam dan tidak bisa tidur."

2. Telaah seputar persoalan Islam dan membaca berbagai risalah dan taujihat yang ditelorkan oleh pemimpin umum yang ditujukan untuk usar. Tidak ada tempat di majelis usrah bagi perdebatan, perang mulut, atau pelampiasan emosi dengan mengangkat suara tinggi-tinggi. Itu semua haram hukumnya menurut fiqih usrah. Yang dibenarkan adalah: penjelasan dari minta penjelasan, itu pun harus dengan memperhatikan batas-batas etika dengan keutuhan sikap saling menghargai dari seluruh anggota. Jika ada suatu usulan atau komplain, naqib (ketua forum) hendaklah menampungnya untuk kemudian menyampaikannya kepada pemimpin. Allah swt. telah mencela beberapa kaum sebagaimana firman-Nya,

"Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanahan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya."

Lalu Allah swt. menjelaskan bagaimana yang seharusnya,

"Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Allah dan Rasul-Nya)." (An-Nisa: 83)

3. Studi terhadap berbagai buku yang berguna. Setelah itu hendaklah para akh berusaha mewujudkan makna ukhuwah dalam berbagai lapangan kehidupan, yang ia tidak mungkin tercakup dalam buku-buku dan tidak pula termuat dalarn berbagai taujih. Rasulullah saw. mengisyaratkannya, antara lain: membesuk yang sedang sakit, memenuhi hajat akh yang membutuhkan meski hanya dengan kata-kata yang menghibur, mencari informasi tentang akh yang absen, mendekati terus-menerus akh yang 'terputus', dan lain-lain. Semua itu menambah ikatan ukhuwah dan semakin mengukuhkan rasa cinta dan ikatan dalam jiwa.

Untuk menambahkan kuatnya ikatan antar ikhwan, mereka harus memperhatikan hal-hal berikut:

1. Mengadakan rihlah tsaqafiyah (semacam studi tur) dengan mengunjungi berbagai peninggalan sejarah, pabrik-pabrik, dan sebagainya.

2. mengadakan wisata bulan purnama.

3. mengadakan wisata sungai dengan berdayung sampan.

4. Mengadakan wisata gunung, bukit, taman, dan sebagainya.

5. mengadakan wisata sepeda.

6. Puasa bersama sehari dalam sepekan, atau sehari dalam dua pekan.

7. Shalat shubuh bersama di masjid sekali sepekan.

8. Berusaha untuk dapat mabit (bermalam) bersama sekali sepekan sekali dalam dua pekan.


KEPADA APA KAMI MENYERU MANUSIA?


KAMI DAN POLITIK

Ada juga sementara kalangan yang mengatakan, "Ikhwanul Muslimin adalah dakwah politik, para pendukungnya pun terdiri dari para politikus, dan karenanya mereka tentu memiliki kepentingan lain di balik dakwahnya itu." Saya sendiri tidak tahu, sampai kapan umat kita akan saling menuduh dan berkubang dalam intrik-intrik serta meninggalkan keyakinan yang didukung oleh fakta untuk sebuah praduga yang lahir dari kecurigaan semata?

Wahai kaum kami, sungguh ketika kami menyeru kalian, ada Qur'an di tangan kanan kami dan Sunah di tangan kiri kami, serta jejak kaum salaf yang saleh dari putera-putera terbaik umat ini adalah panutan kami. Kami menyeru kalian kepada Islam, kepada ajaran-ajarannya dan kepada hukum-hukumnya. Jika seruan itu kalian anggap sebagai politik, maka itulah politik kami. Dan jika orang yang menyeru kalian kepada itu semua kalian katakan sebagai politikus, maka alhamdulillah kami adalah politikus yang paling ulung. Jika kalian ingin menyebut itu sebagai politik, silakan memberi nama apa saja yang kalian suka. Sebab nama sama sekali tidak penting bagi kami, selama muatan dan tujuannya jelas.

Wahai kaum kami, janganlah hendaknya kata-kata menghalangi kalian dari melihat kebenaran, jangan pula nama menghijab kalian dari tujuan. jangan sampai kemasan (bungkus) menghijab kalian dari muatannya yang hakiki. jangan sampai itu semua terjadi. Sesungguhnya dalam Islam ada politik, namun politik yang padanya terletak kebahagiaan dunia dan akhirat. itulah politik kami. Kami tidak menginginkan pengganti apa pun selain itu, maka pimpinlah diri kalian dengan politik itu dan ajaklah orang lain melakukan yang serupa, niscaya kalian akan memperoleh kehormatan di akhirat. Dan suatu saat kalian pasti akan tahu tentang kebenaran kabar ini.


SUMBER KEKUATAN TERBESAR


Kelompok orang-orang yang beriman kepada Allah, kepada pertolongan dan bantuan-Nya itu, seringkali berdiri dengan gagah berani menghadapi bala tentara raksasa. mereka tidak takut pada keganasan pasukan, karena mereka hanya takut kepada Allah. Maka adakah kekuatan yang lebih dahsyat dari kekuatan yang dirasakan lelaki mukmin ketika dadanya bergelora dengan firman Allah swt.,

"Jika Allah menolong kamu, niscaya takkan ada yang sanggup mengalahkanmu." (Ali Imran: 160)


MENJAGA KEBENARAN DENGAN KEKUATAN

Alangkah bijak orang yang pernah mengatakan ini, "Kekuatan adalah jalan yang paling aman untuk memunculkan kebenaran”.


PENUTUP

Kesimpulan

Bila Kita  menyelami ajaran-ajaran Islam secara lebih mendalam, pasti akan menemukan betapa agama yang agung ini telah meletakkan prinsip, sistem, dan tatanan yang paling tepat bagi kehidupan manusia, baik dalam skala individu, keluarga, maupun bangsa-bangsa. Islam juga memformulasikan kerangka konseptualnya secara detail; sesuatu yang tak sanggup dilakukan oleh para reformer dan pemimpin bangsa-bangsa di dunia.

Ikhwanul Muslimin yakin sepenuhnya, bahwa ketika Allah swt. menurunkan Al-Qur'an, menyuruh hamba-hamba-Nya mengikuti Muhammad saw., dan meridhai Islam sebagai agama bagi mereka, sesungguhnya Ia telah meletakkan -dalam agama ini- seluruh dasar yang mutlak dibutuhkan bagi kehidupan,

Kebangkitan dan kesejahteraan umat manusia. Pembenaran terhadap uraian tersebut dapat ditemukan dalam firman Allah swt.,

Islam telah meletakkan suatu sistem bagi dunia yang membuka pintu bagi pendayagunaan dan pemanfaatan semua sumber kebaikan, sekaligus menghindarkan manusia dari semua kemungkinan buruk yang bisa timbul dalam proses menuju ke sana.


Saran

risalah ini bukan tempat untuk merinci masalah itu lebih jauh lagi. yang ingin kami lakukan di sini adalah menegaskan kerangka pemikiran yang kami yakini kebenarannya, sekaligus menjelaskan apa yang kepadanya kami menyeru manusia. Setelah itu, dalam bagian lain, kami akan kembali merinci masalah itu secara lebih detail.




DAFTAR PUSTAKA



Majmu’atur Rasail Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al-Banna Jilid 1


Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin Jilid 2 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar