Pages

Minggu, 11 November 2012

Ketika Dua "CAHAYA" Bersua

Kusampaikan tulisan ini, khususnya untuk diri sendiri. Untuk apa? Pengingat kala nanti terlupa. Bahwa ada pertemuan dua "cahaya" yang harus dijaga kilaunya. Supaya tak redup, supaya tak surup. 
Begitu cepat. Semoga tidak tergolong terburu-buru. Kalau boleh berkisah. Semuanya terjadi begitu saja. Ya, skenario Allah seringnya memang tak disangka. satu dua hal yang tak terduga terjadi. Dan iman pada Allah membuat indah selalu menjadi akhir dari setiap peristiwa. Hanya ada satu rasa, yakin dan tenang. Tidak ada yang lain. Karena Allah, semoga demikian. Bukan alasan duniawi. Bahkan, kekhawatiran urusan dunia tak lagi terlampau membebani. Hanya ingin ridhaNya. Itu saja. 
Berharap, semua akan berjalan dengan lancar dan penuh keberkahan. Karena kita tidak tahu, apa yang akan terjadi nanti, esok, lusa, atau kapanpun nanti. Yang kita tahu, kita berjuang menjadi hamba yang baik. Menjalankan setiap yang diperintahkan, dan menjauhi segala yang dilarang. Ikhtiar terbaik, sebagai tanda baiknya prasangka kita pada Allah. Selanjutnya, keputusan ada pada Allah. Yang akan memudahkan, menyulitkan, mengurangkan, menambahkan, dan sebagainya. Tugas manusia berusaha atas sebuah mimpi. Tugas Allah merealisasikan cita. 

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu me-nyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Al-Baqarah: 216)
(Tulisan ini dibuat pagi tgl 4 Juni 2012 --> atas peristiwa berharga di senja, 3 Juni 2012)
Ya, kali pertama ku melihat, "ada ya, sosok seperti ini?"
Namanya, baru ku dengar 1 juni, di malam hari. Ya, tak lebih dari satu pekan sejak proposal kusampaikan kepada murabbi. 

"Siapa ya?", bergidik tanya. 
Tapi kemudian, hati kecil menjawab, "Yuk, sudah yakin kan?"
Lalu, aku mengangguk, bahkan, sebelum ku tahu apapun kecuali nama lengkapnya. 

"Ada yang mau ditanyakan lagi?" tanya sang murabbi
"Tidak," kata al akh yang duduk tertunduk takdzim di seberang hijab
"Sudah mantap?"
"InsyaAllah,"
"Siap untuk segera khitbah ke rumah akhwat?"
"InsyaAllah,"

Dan kali itu, adalah kali pertama menatap mata seorang al akh dengan perasaan yang berbeda. 
Lalu, siap beranjak ke proses berikutnya? Ya.
Engkau akan tau betapa luar biasa indah skenario yang Allah susun untuk kehidupan kita, jika engkau berfikir. Berfikir dan merenung. Menatap dan menapaki satu demi satu langkah yang telah terlalui. Indah, sungguh. Meski, yang indah bukan melulu kabar gembira, tawa, canda, hadiah, bukan. Yang indah bisa saja karena air mata itu menetes. Menetes bukan karena kecewa, tapi menetes karena bersusah payah mensyukuri satu dua musibah yang Allah berikan. Sabar. Yang indah, bukan karena jalan tak sesuai dengan keinginan, banyak cita dan target meleset berganti haluan. Bukan, melainkan indahnya sikap kita menghadapinya. Kemudian merenung, memuhasabahi diri, bahwa inilah skenarioNya.

Lagi-lagi, aku ingin berkata pada diriku, pada hatiku, juga pada kalian. "Saya tidak tahu ini rahmat atau musibah, saya hanya berprasangka baik pada Allah..."

Untuk setiap tahap hidup yang kulalui, aku hanya beryakin, itulah wujud tarbiyah Allah untukku. Untuk kehidupanku, menjadi lebih baik, lebih berkualitas, dan lebih istiqamah.

Dan satu kesyukuran dalam melalui semua itu adalah, Allah memberikan keluarga yang luar biasa. Memberikan kawan yang sangat mempesona. Memberikan lingkungan yang tak dinyana kebaikannya. Sungguh, keberadaan lingkungan itulah yang harus kita ciptakan, kita cari, atau kita dapatkan. Karena bersama mereka kita bertumbuh. Ya, begitulah yang kurasakan selama ini. Keluarga yang begitu mendukung dan memahami. Teman-teman yang sangat...baik.

Suka dengan perkataan sahabat, demikian, "Tidak ada nikmat yang lebih baik dari teman yang shalih, yang diberikan kepada seorang hamba setelah Islam. Jika dia lupa, temannya mengingatkannya. jika dia ingat, ia membantunya. Siapa diantara kalian mendapatkan cinta dari temannya, hendaklah ia memegangnya, karena sesungguhnya hal itu sangat jarang ditemukan. " (Umar bin Khattab)

Menurutku, teman itu bisa berarti keluarga, bisa berarti sahabat, bisa berarti teman menuntut ilmu, bisa berarti rekan kerja, dan bisa berarti juga teman sejati (teman hidup)

Semoga, Allah berkenan memberikan teman yang shalih pada kita, sehingga dari situ Allah mengingatkan kita untuk senantiasa berkebaikan, hingga khusnul khatimah yang dirindukan tergapai. Aamiin...

-Blora, tatkala mentari tergelincir, tanggal 23 Juni 2012
Ya, meski harus berkejaran waktu dengan rombongan yang hadir dari ibukota Jawa Tengah, tak mengapa. Lagi-lagi, Allah yang mengatur. Bus yang kutumpangi berhasil lolos dari kemacetan, di saat yang lain harus menanti ber-jam-jam. Ini rahmat-Nya. Semoga pertanda barakah.

Kali kedua pertemuan. Tak ada sapa, tak ada salam, bahkan tak ada tatap. Hanya saling menunduk, dengan sesekali kaku bersalah tingkah saat tak sengaja harus berjalan berseberangan. Hanya mendengar suaranya, saat menjawab pertanyaan dari keluarga. Itu saja. Lalu waktu berjalan cepat (atau lambat?). Hingga kalimat mantap terucap, dan siap menanti putusan momen akad. 

Hari bahagia kini tiba
Pelaminan jadi saksi
Kau dan Aku tlah bersanding
Dalam ikatan yang suci
Selaksa cinta tumbuh bergelora
Anugerah pencipta
Karena saat cahaya memuncak, bersama sang mentari melaksa-i bumi, ia terdengar. Menggaung mengalun. lembut mendayu, tegas menepas. Lalu satu dua kalimat terucap. Panjang terdengar, tanpa jeda, juga koma. Seakan tak ragu, ujung penantian telah tiba

Terucap mesra, bersama persembahan dari pencipta langit semesta, ayat indah-Nya. Lalu terputuskan sudah, bahwa ia telah halal. Untukmu, untukku. Aku dan kamu. Atau siapa yang hari itu namanya tertulis beroleh dampingan jiwa.
Berpadu asa dalam janji
Alam pun ikut berseri
Hati trus berucap rasa
Syukur yang tiada terkira
Bertasbih memuji kuasa Ilahi
Sang pemilik cinta  
Gerimis itu pun membasahkan. Setidaknya, tak membiarkan lekuk lesung kering tanpa bekas air. Semoga itu pertanda syukur. Pertanda takut. Syukur atas nikmat yang besar, anugrah terindah beroleh tautan hati. Takut, atas janji yang telah terucap, "bahwa aku akan menjadi pemimpin-mu, imam-mu. Maka, aku tanggung pula dosamu. Maka, aku pula-lah, surga (atau) neraka-mu.."

Lalu semesta berdendang. Beriring awan yang memutih meneduhkan. Lihat saja kicau alam tak jua berhenti, hingga satu persatu rekan menghaturkan doa keberkahan. 
Sujud syukur atas karunia,
penantian ini berujung sudah
Demi pemilik jiwaku ini,
kujaga sepenuh cinta hingga akhir nanti

Dua September Dua Ribu Dua Belas -kali ketiga (atau ke-empat pertemuan kami)-
Terucaplah sudah. Ter-halal-kan-nya sudah, keduanya. 
Dua "cahaya" kini bebas bersua. Bercanda mesra. Karena itu pahala. 
Dua "cahaya" kini bebas bertatap. Berevaluasi berdua. Tak khawatir syetan menjadi yang ketiga. 
Dua "cahaya" kini bebas berkolaborasi, menata aksi penuh prestasi. Meski tertatih, tapi langkah itu pasti. Semoga terus pertahankan visi hingga di penghujung nanti. 

Kalian bertemu dalam dakwah, maka semestinya demikian untuk berikutnya. Menjadi barisan-barisan pendukung dakwah. bukan sekedar ikut kajian pekanan (saja), melainkan bagaimana kalian dibutuhkan oleh dakwah. Supaya bisa istiqamah, tetaplah berjalan dengan amanah-amanah dakwah. Dengan begitu, kalian akan terjaga dalam dakwah. banyak yang akhirnya limbung, banyak yang putus. Maka semestinya tidak untuk kalian. Kalian bertemu dengan proses yang benar, maka saya yakin ke depan akan demikian pula, selama kalian tidak lalai, tidak lengah. Aturlah waktu. Waktu untuk pekerjaan, untuk dakwah, dan untuk keluarga. Sehingga semua berjalan beriring tidak saling mengacaukan. Suami adalah murabbi pertama istri, yang pertama wajib membimbing, mendidik. Bukan lagi murabbiyyah sang istri. Salinglah menjaga satu sama lain, mengingatkan. Penerimaan yang penuh ikhlas di antara keduanya, atas kekurangan pasangan akan membuat kalian istiqamah. Maka, saya berharap, dua potensi dakwah yang telah dipertemukan dan disatukan dalam dakwah, dengan tujuan dakwah ini, mampu melejitkan energi yang luar biasa untuk pergerakan dakwah ini 
(Pondok Safari, 23 September 2012, pk. 16.00-17.40, oleh Bp. Tri Angga Sigit)
Dan subhanallah.. 
Ketika separuh dien telah tersempurnakan dengan pernikahan, maka mari kita sempurnakan separuh lainnya dengan ketaqwaan kepada Allah. 

Spc for "cahaya"ku, ber-sabar-lah menjadi murabbi tetap-ku... :)
dan untuk sahabat-sahabat yang belum menyempurnakan dien, teruslah perbaiki diri hingga Allah berkenan mempertemukanmu dengan penyempurna dien-mu...

Gedung Cahaya, di kala mentari cerah menerang :)

@ Annanda 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar