Pages

Rabu, 10 Oktober 2012

Dialog Akhwat Luguisme


Selepas agenda konsolidasi dan daurah tahsin Murabbi di kampus hijau
***
Kulabuhkan diri ini di bawah pohon Pinus kecil, di bibir trotoar mushalla Fakultas-ku. Betapa Sang Raja Siang menampakkan kekuasaan dengan gagahnya, (ah, jauh lebih Gagah Yang Menciptanya ^^).
Panasshh… shaum-ku diuji, bilakah bersedia sabar untuk Nya? InsyaAllah!!
Samsung GT–C3322 ini masih ku putar-putar di tangan (berpikir keras, iyakah? Bukannya galau sindrome?? ^^).
Crinkk!! (seperti ada bola lampu di kepala menyala, bunyinya gitu gak y? ^^)
Yup! Mb Zein!” (senior Aktivis Dakwah Kampus, sekaligus ketua genk kost-an ku ^^).
Kumulai memijit tombol-tombol kecil berhuruf dan berangka di alat komunikasi itu…
Sms ah… ^^ “
Anna: assalamlkm. Mb, lagi ngapain? Sibuk tak?
Mb Zein: wlkmsalam. Lagi melahap karyanya Ust. Ahmad Ar Rasyid. Ono opo?
Anna: mb, mmm… kalau misal ada seorang ikhwan yang ngajakin mb ta’aruf, apa jawaban pertama mb untuk menanggapinya?
Mb Zein: Suruh ngomong ke Murabbinya (MR) dulu.
Anna: maksudnya MR ikhwannya atau akhwatnya ni? Trus kalau kita tanya, kenapa alasannya mau ta’aruf? Boleh ga?
Mb Zein: ya, suruh ngomong ke MR nya ikhwan itu sendiri. Urusan sama MR akhwat itu nanti. Gak usah ditanya kenapa mau ta’aruf. Ngajak ta’aruf, yo jelas mau ngajak nikah…
Anna: hehe… y juga y, karena mau nikah… Maksudnya, kenapa jadi pilihan? ^^ Ya kalau dia punya MR? Kasusnya, belum tau ni ikhwan satu fikrah dengan kita ga…?
Mb Zein: kenapa jadi pilihan, itu tanyanya pas waktu ta’aruf. Kalau belum ngaji (liqa), suruh ngaji dulu. Kalau gak se-fikrah, ya berarti dia lagi recruitment. Cari yang se-fikrah aja. Nanti kalau beda-beda fikrah, susah ngatur visi, dan gerakannya nanti malah tawur trus, karena geraknya gak kompak.
Anna: ^^, berarti ditanya y, Antum ngaji ga? Nanti kalau kata ikhwannya: ‘iya’, trus akhwatnya bilang: ‘mintalah fatwa dengan MR Antum…’. Gitu mb?
Mb Zein: bukan minta fatwa, tapi minta pertimbangan dan mengkomunikasikan dengan MR dulu…
Anna: o… y y. mmm… jarak waktu yang syar’i antara ta’aruf dengan pernikahan, berapa lama mb?
Mb Zein: entahlah bila itu yang ditanyakan… Hey… kamu jadi gak, mau bantu ngisi Pesantren Kilat di SMP 2?!
Anna: Senin, Anna masih ada daurah mb, piye yo?
Mb Zein: Hmm…. Bantu cari pengganti!
Anna: iyaaa, enggiieeuh…Oy mb, masi ada lagi..! Bagaimana cara mb menolak untuk diajak ta’aruf, bila ikhwan itu tidak satu fikrah?
Mb Zein: bilang aja kalau tidak bersedia…
Anna: o gitu ya? Kalau misalnya, menolak karena akhwatnya blum siap? Ahsan gak mb…?
Kan ada haditsnya yang mengatakan seperti ini kalau tidak salah; “bila datang laki-laki yang kalian ridhai agama dan akhlaqnya (untuk meminang), maka nikahilah ia. Bila tidak kalian lakukan akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang luas.”
Nah, itu gimana mb?
Mb Zein: makannya ndenger nasyid itu, jadi hobi sama Edcoustiq juga…
Anna: mb salah kirim cmz, y? ^^
…………………………………………. (Menunggu plus tambah bingung ^^)
Anna: mb afwan, Anna ndak faham maksud cmz mb itu…. T.T
………………………………………… (Lagi shalat mungkin, atau pending?)
Mb Zein: tentang lama atau waktu yang efektif itu, mb kurang paham.
Ya kalau lagi berproses, untuk menjaga hati ya lebih cepat lebih baik. Asal jangan kyak lagunya Edcoustiq, “nantikan aku di batas waktu…”
Anna: oh, hoho… ^^ tadi cmz Anna pending ya?
Mb Zein: gak pending. Aku ngantuk. Malez mbalez…
Anna: ieeh mb ini… ni masalah umat. Jangan tidur dulu…!! Cmz tadi blum dibalez, menolak karena blum siap, piyeeeeee?!?!
(–kaya’ anak-anak minta dibelikan Ciki-Ciki –)
…………………………………………. (udah ‘pingsan’ agaknya beliau ^^)
***
Beberapa jam kemudian, di tempat yang berbeda ^^
one message received…
Mb Zein: nolak itu bisa karena apapun. Tapi yang lebih penting, pemahaman tentang arti bangunan Rumah Tangga ke depan itu bagaimana? Dan untuk apa?
Jadi kalau sudah paham… biasanya bukan masalah umur, financial, study, dll… tapi sekali lagi kepahaman. Maka tolok ukur siap menurut Islam itu adalah pada kepahamannya…
…………………………………………………………..
Mb Zein: hey umat, aku dah bangun! Kok ndak tanya lagi…
.………………………………………… (pending)
Anna: hehe, cmznya baru masuk… afwan mb, tadi abis ngaji.
Kita lanjutin diskusinya ya malam ini, ba’da tarawih. Diskusi 4 mata…^^
***
Itulah sekelumit kisah di kalangan ikhwah, sekecil apapun sebuah permasalahan, Islam menjadi pilihan untuk menemukan solusi secara syar’i, agar tidak tersesat dan teteup kudu’ berhati-hati… mau berkah dan ridha Nya, kan? ^^
Berbicara masalah pernikahan (beuugh berat, penulisnya saja belum nikah? Hoho…),prepare.com ^^… Awalnya dari niat, kata Ustadz Fauzil ‘Adhim. Karena memang Allah selalu mengintai niat yang terbesit untuk dijadikan pertanyaan pertanggungjawaban. Juga karena Allah meletakkan karunia balasan pada niat yang diteguhkan.
Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatannya. Dan bagi tiap-tiap orang terdapat balasan sesuai dengan niatnya…” (HR. Bukhari&Muslim).
Ya, dari niat!
Ustadz Salim A Fillah mengatakan niat apa saja dalam hal ini;
Niat ketika kita berazzam untuk bersegera merenda sebuah kebersamaan suci dalam naungan ridha Illahi. Niat ketika menetapkan kriteria-kriteria. Niat ketika kita memulai sebuah proses yang bersih, tanpa hubungan haram pacaran, tanpa interaksi yang mubadzir dan merusak hati. Niat ketika melihat calon suami atau kandidat istri. Niat ketika menyaksikan kondisi keluarganya. Niat ketika menentukan mahar dan persyaratan. Niat ketika menyatakan persetujuan dan penerimaan. Niat ketika merencanakan hari akad dan perayaan walimah. Niat selama dalam penantian.
Niat dan niat, ketika dan ketika… ^^
Niat ketika mengucap ijab dan qabul. Niat di saat menerima ucapan selamat dan doa. Niat di waktu menjamu tamu. Niat di saat para tamu meninggalkan tempat. Niat ketika mengucap salam dan mengetuk pintu kamar. Niat ketika berjamaah dua rakaat pertama kalinya. Niat ketika meminum susu dari tepi gelas yang sama. Niat ketika mengajak bicara dan meneguhkan komitmen bersama. Niat ketika menyelinginya dengan canda. Niat ketika mengajaknya bermain dan tertawa.
Allahu Akbar!
Banyak sekali niat yang harus diteguhkan…
Lahaula wa laa quwwata illa billah…
Tolonglah kami, ya Allah.
Kalau muncul pertanyaan, di jalan apa Anda menikah? Maka benarlah judul buku ustadz Pak Cah, Di Jalan Dakwah Aku Menikah.
Insya Allah…


Sumber: http://www.dakwatuna

Tidak ada komentar:

Posting Komentar