Pages

Selasa, 28 Agustus 2012

Apa beda KAMMI, LDK dan Partai?


Kalau bicara ketiga hal ini, saya rasa semua sudah mahfum. Kalaupun ada tarik menarik atau 'ketidakharmonisan'. Ini lebih dikarenakan karena KAMMI dan LDK berada di ranah mahasiswa. Dan ketika bicara ranah mahasiswa, maka kita akan bertemu dengan yang namanya 'moral force' yang selalu diidentikkan dengan yang namanya gerakan mahasiswa. Dan kalau kita melihat agenda politik yang ada, seringkali mahasiswa menjadi tumpuan harapan untuk mengekskalasikan isu politik yang ada. Disinilah kemudian partai politik 'punya kepentingan', karena dengan 'menggunakan mahasiswa' maka gerakan yang dibangun akan lebih 'terangkat' sebagai sebuah keinginan yang 'murni' bukan sebuah agenda politik tertentu. Alasan yang biasa dipakai kader-kader yang fatalistik: 1. Demi dakwah, Akhi. Mereka berfikir seolah-olah dakwah hanyalah partai. Sedangkan lembaga di luar partai tidak dipandang sebagai dakwah sama sekali. Bukankah dakwah tidak hanya di partai? Bahkan seorang rekan saya yang tidak aktif di lembaga manapun, hanya mengajar TPA tanpa dibayar sesenpun tetap saya anggap sedang berdakwah. Murobbi saya yang hanya dosen pun, selama ia mengajar dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab, ia sedang berdakwah. 2. Al-hizbu huwal jama'ah, wal jama'atu hiyal hizb. Jadi semua potensi, sumber daya, program kerja organ-organ jamaah, dipakai hanya untuk mendukung program kerja partai. Bahkan istilah "kader" diidentikan dengan "anggota partai". Coba dengar ungkapan sederhana di pojok kampus ini, "Oh, orang itu memang aktif di LDK, tapi dia bukan kader, dia orang salafy...". 3. Menuhankan KAMMI ya? Menuhankan LDK ya? Makanya patuh dong ama partai! Mereka lupa, bahwa mereka baru saja menuhankan partai. 4. Anti Partai. Tidak ada yang anti partai dalam jamaah. Yang ada hanya berbeda pendapat dengan partai dalam hal-hal yang bersifat teknis dan kontemporer. Al-tsawabit, manhaj, fikroh, prinsip-prinsip, ideologi dan visi dakwah tidak anti/berbeda. KAMMI, LDK dan Partai adalah tiga organ kekuatan jamaah Tarbiyah. Konflik interes kebanyakan terjadi hanya di seputar tiga organ tersebut. Di luar ketiga organ tersebut, masih banyak organ lain seperti BEM, FLP, PAHAM, PKPU, MER-C, Serikat Pekerja Sejahtera, Salimah, Nurul Fikri dan Al-Hikmah. Tapi tidak ada konflik disana. Tepatnya, konflik kepentingan seperti yang dialami tiga organ yang saya sebutkan pertama. Bahkan organisasi seperti IKC (IlmuKomputer.com) banyak didirikan oleh aktivis dakwah yang aktif di Tarbiyah. Tapi adakah IKC berhenti memproduksi tulisan komputer hanya karena kader-kadernya sibuk mendapat ta'limat memenangkan pemilu? Adakah faham berhenti mengadvokasi karena anggotanya sibuk di partai? Bahkan tak ada yang mempermasalahkan jika organ-organ tersebut dimasuki orang-orang non Tarbiyah. Ya, konflik interest cuma ada di tiga organ: KAMMI, LDK dan Partai. Itu karena para fatalis/neo-partai masih berfikir bahwa KAMMI dan LDK adalah milik partai dan bekerja hanya untuk kepentingan partai. Selain itu karena kekuatan pergerakan Tarbiyah secara nyata dan jelas ada di ketiga organ tersebut. LDK membentuk kader yang memiliki kafaah Islamiyah dan daiyah. LDK diperlukan karena di LDK-lah penyebaran pemahaman Islam di kaum intelektual bernama "mahasiswa" menjadi matang. Sedangkan KAMMI melahirkan kader yang memiliki kafaah siyasah, ijtima'i. Kader binaan KAMMI-lah yang sebenarnya mampu melakukan penetrasi dakwah yang lebih menusuk ke semua lini kehidupan masyarakat. Dan partai? Tidak tahu saya. Sepemahaman saya, partai diperlukan untuk menuju daulah islamiyah yang kita cita-citakan. Karena fungsi partai memang hanya untuk menyerap dan memperjuangkan aspirasi rakyat melalui politik praktis.Ada fanatis partai, ada fanatis LDK, tapi saya yakin (bahkan haqqul yakin 100%), tidak ada fanatis KAMMI di tubuh KAMMI, apalagi menuhankan KAMMI. Tapi biarkan KAMMI tetap lincah bermain di pergerakan mahasiswa, dalam pertarungan ideologi, ceria bersama anak-anak jalanan dan masyarakat marginal, demo-demo parlementarianya, dan oposisi extra parlementernya. Biarkan KAMMI disana. Karena di sanalah dakwah KAMMI. Memang, kontribusi KAMMI (bahkan sampai memakan sumber daya yang besar) kepada masyarakat tidak akan membuat rakyat menjadi anggota Tarbiyah, bahkan milih partai-nya Tarbiyah. Tapi mari saya ingatkan inti pesan Asy Syahid Hasan Al-Banna: "Tujuan dakwah kita bukanlah menjadikan orang-orang menjadi anggota jamaah kita, tapi menyebar kebaikan dan risalah Islam kepada umat manusia." 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar